counter

Kementan dorong ekspor beras hitam varietas lokal

Kementan dorong ekspor beras hitam varietas lokal

Sup krim instan dari beras hitam. Foto : Humas IPB/Dr. Ir. Budi Setiawan, MS.

beras hitam merupakan varietas lokal yang mengandung pigmen antosianin dan antikolesterol yang tinggi,
Jakarta (ANTARA) - Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) tengah meningkatkan dan mengembangkan ekspor komoditas beras hitam dengan varietas lokal yang kini mulai diminati negara lain.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Kementan RI, Gatut Sumbogodjati menyatakan beras hitam Indonesia sudah mulai dilirik pasar Amerika Serikat. Pada 2018 untuk pertama kali, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah mengekspor beras hitam ke Amerika Serikat sebanyak 20 ton dengan nilai mencapai Rp800 juta.

"Beras hitam kita sudah mulai dilirik pasar ekspor, ke depan volume ekspornya akan lebih banyak. Kementan mendorong ekspor dengan mempermudah izin dan meningkatkan produksi berkualitas ekspor," kata Gatut di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Menteri Rini belanja beras hitam usai kunjungi penggilingan padi

Merujuk penelitian yang dilakukan Prof. Edi Purwanto dalam situs resmi UNS, beras hitam merupakan varietas lokal yang mengandung pigmen antosianin dan antikolesterol yang tinggi, mencapai 200 hingga 400 miligram per 100 gram atau paling baik di antara jenis beras lainnya seperti beras merah.

Menurut Gatut, Indonesia dapat memanfaatkan peluang ekspor ke Korea Selatan karena negara tersebut menjadikan beras hitam sebagai konsumsi karbohidrat yang sehat.

Ia menjelaskan di Indonesia, jenis beras hitam ini merupakan varietas yang langka dan sangat tua. Ada beberapa varietas yang sudah dikembangkan sejak zaman dulu seperti varietas Padi Hitam yang ada di Toraja dan Nusa Tenggara Timur.

Kemudian, varietas lainnya yakni Cempon Ireng di Magelang, Sleman, Bantul, varietas Joko Bolot di Malang, dan varietas Cibeusi di wilayah Jawa Barat.

Baca juga: Pemkab Pekalongan kembangkan budidaya padi beras merah dan hitam

Di beberapa daerah, petani konsisten mengembangkan beras hitam seperti di Kabupaten Tabanan. Petani mengembangkan beras hitam dengan kapasitas produktivitas 5 hingga 6,5 ton per hektare dengan umur panen 6 bulan. Kementan pun turut memfasilitasi pasca panennya.

"Untuk kelompok tani yang mengembangkan beras hitam, kami beri bantuan seperti combine harvester, dryer, rice milling unit dan pengemasan agar lebih efisien proses produksinya," kata Gatut.

Ia menambahkan bahwa beras hitam sebagai kekayaan hayati yang bernilai ekonomis perlu dikembangkan karena kandungan nutrisinya. Beras hitam berbeda dengan beras ketan hitam, dari sisi kandungan nutrisi dan rasa serta aromanya.

Ada pun pengembangan produksi beras hitam sudah mulai dilakukan sejak empat tahun lalu di Kabupaten Sleman DIY, Kabupaten Cianjur Jawa Barat dan beberapa kabupaten sentra padi lain.

Konsumsi beras hitam dilihat dari respon pasar dalam negeri pun cukup baik. Daerah pemasarannya meliputi Jakarta, Depok, Tangerang, Bogor dan beberapa kota besar lainnya di Jawa.

"Ditinjau dari segi harga, beras hitam cukup menggiurkan bagi petani yang mengembangkan karena harga gabah beras hitam dihargai Rp8.000 per kilogram atau dua kali lipat dari beras putih biasa. Ini menjadi peluang besar petani," jelas dia.

Baca juga: Buwas sebut beras sulit diekspor karena mahal

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar