counter

Liga Inggris

Yang pesimistis dari Manchester United

Oleh AA Ariwibowo

Yang pesimistis dari Manchester United

Manajer Manchester United Ole Gunnar Solskjaer. ANTARA/REUTERS/Andrew Yates/aa.

Jakarta (ANTARA) - Mengapa pesimistis? Sekali lagi, mengapa pesimistis? Silakan menggeledah untuk melihat capaian Manchester United yang boleh dibilang memprihatinkan karena hanya mengemas lima poin dari empat laga di ajang Liga Inggris musim kompetisi 2019-2020.

Ini catatan terburuk skuad berjuluk Red Devils sejak musim 1992-1993. Ziarah Manchester United yang kini dibesut Ole Gunnar Solskjaer layaknya roller coaster, bisa menjulang bisa menukik.

Saat menapak akhir pekan lalu, Manchester United hanya beroleh hasil imbang 1-1 saat berduel dengan Southampton. Sebelumnya pasukan Solskjaer memperoleh satu poin di kandang Wolverhampton. Dua laga yang jauh dari menggembirakan.

Nada optimisme

Paul Pogba dan kawan-kawan bukan tanpa nada optimisme. Skuat berjuluk the Red Devils menang 4-0 atas Chelsea di laga pembuka kompetisi Liga Inggris. Kegembiraan itu pupus, lantaran Manchester United justru menyerah 1-2 atas Crystal Palace di Old Trafford.

Awal yang baik sama halnya setengah pekerjaan selesai. Ini tuah tentang apa yang disebut sebagai gunjang-ganjing dari model berpikir dan bernalar. Mereka yang saat ini berkoar-koar tentang optimisme silakan bersiap-siap dengan pesimisme lebih dulu.

Apa yang kini dijalani skuat Manchester United - saat mengeja pesimisme di papan tulis kehidupan - bukan hal yang baru di bawah kolong langit. Kalah dari Crystal Palace di Old Trafford membekas dan menorehkan luka bagi fans the Red Devils. Mengapa?

Hati fans Manchester United sempat berbunga-bunga setelah menyaksikan tim kesayangan mereka melumat Chelsea. Setelah itu, lutut mereka bergetar mulut terkatup, karena beroleh kekalahan di Old Trafford.

Tak pelak, mantan pemain Manchester United Paul Scholes angkat suara dengan menyuarakan nada dasar pesimisme. Ia mengarahkan perhatian kepada performa Paul Pogba, Ashley Young dan Nemanja Matic yang disebutnya "contoh buruk" bagi para pemain muda.

"Saya kecewa setelah melihat penampilan para pemain senior yang nota bene sarat pengalaman. Penampilan mereka sungguh bukan contoh yang baik bagi para talenta muda dalam tim ini," katanya sebagaimana dikutip dari laman football 365.

Tanpa tedeng aling-aling - layaknya lontaran pesimisme disuarakan di depan gendang telinga dari mereka yang optimistis - Scholes mendemonstrasikan dan memeragakan gaya bernalar eksistensial, artinya dia melontarkan kritik karena dia mengetahui.

Scholes prihatin. "Tim ini, yang kini diasuh Ole Gunnar, merekrut sederet pemain di jendela transfer. Apa hasilnya? Manchester United justru berada di bawah posisi Manchester City, Liverpool, Chelsea dan Tottenham," katanya.

"Anda memang harus bersabar dengan performa pemain muda, tetapi para pemain berpengalaman justru dituntut terus berkembang," katanya.

"Saya menyaksikan para pemain berpengalaman melakukan begitu banyak kekeliruan ketika mereka turun bertanding. Ini bakal menyulitkan pembentukan dan perkembangan tim secara keseluruhan di masa depan," kata Scholes.

Pesimisme Scholes

Pesimisme yang dicetuskan Scholes buru-buru dijawab Solskjaer. Pelatih Manchester United itu coba-coba memerankan diri sebagai pribadi "yang serba tahu" tentang kekuatan dan kelemahan dari tim asuhannya.

Solskjaer buru-buru menyelimuti dan mempersenjatai diri dengan menyatakan bahwa Anthony Martial sedang mengalami cedera bahu, dan berharap pemain muda itu cepat pulih dan kembali memperkuat Manchester United.

"Dari tiga laga yang lalu, kami tidak memperoleh kemenangan, yang membuat kami justru tidak beroleh posisi yang memuaskan di klasemen," kata pelatih berpaspor Norwegia itu setelah tim asuhannya bermain imbang melawan Southampton.

"Kami memang belum memperoleh hasil memuaskan, namun kami berada di lintas perjalanan yang benar. Semuanya itu, hendaknya dilihat dan dirujuk dengan melihat apa yang terjadi di lapangan latihan, serangkaian persiapan sebelum pertandingan."

"Dalam hal ini, tidak ada hal yang berdiri sendiri. (Para pemain) merasa sudah melakukan hal yang terbaik bagi tim, bahkan mereka merasa telah mendominasi penguasaan bola dalam dua pertandingan terakhir," kata Solskjaer.
Paul Scholes berfoto dengan syal Oldham Athletic setelah ditunjuk sebagai pelatih tim kasta keempat Inggris tersebut pada 11 Februari 2019. (ANTARA/REUTERS/Carl Recine) (ANTARA/REUTERS/Carl Recine/)


Trauma masa lalu

Pernyataan bernada defensif dari Solskjaer seakan menguak trauma masa lalu Manchester United, bahwa skuat Setan Merah masih menyimpan kelemahan di lini pertahanan.

Rekrutan anyar dengan mendatangkan Aaron Wan-Bissaka dan Harry Maguire belum menunjukkan hasil memuaskan. Pertahanan Manchester United terlihat masih rentan ditembus oleh pergerakan eksplosif dari striker lawan.

Lini depan Manchester United kurang bertaji, setelah ditinggalkan Romelu Lukaku, meskipun penampilan Marcus Rashford boleh dibilang menjanjikan dengan melihat penampilannya saat melawan Chelsea.

Dalam kelemahan termuat kekuatan, dalam sikap pesimistis terkandung sikap optimistis, karena kedua hal itu mewarnai ziarah hidup yang sarat onak berduri.

Homo mysticus

Pekerjaan rumah Pogba dan kawan-kawan satu saja: membebaskan diri dari pesimisme dengan menghidup-hidupan optimisme. Di sini persis Solskjaer tampil sebagai "homo mysticus".

Artinya, Solskjaer diharapkan tampil sebagai sosok yang mampu mengangkat dan mengatasi segala persoalan dalam tim dengan bersikap lebih tenang dan lebih dingin, dengan belajar dari pengalaman masa lalu, tanpa mengingkari kekeliruan masa lampau.

Bukankah filosof Yunani klasik Sokrates memampatkan kredonya bahwa mereka yang tidak mengetahui - silakan baca: mereka yang melontarkan kritik dengan berbekal pesimisme - justru memberi obat mujarab bagi optimisme di masa depan.

Mereka yang menempuh sikap penolakan terhadap pesimisme, biasanya lantas menggenggam dan membela diri dengan perangkat rasionalisasi diri, dengan mematut-matut diri layaknya peribahasa: wajah buruk cermin dibelah.

Langkah praktis bagi kubu Manchester United: ciptakan suasana ruang ganti yang mampu memotivasi pemain tanpa menyembunyikan konflik di bawah karpet kejayaan masa lampau.


Baca juga: Solskjaer masih merasa MU pantas menang
Baca juga: Rahasia sukses Harry Maguire: "do it yourself"

Oleh AA Ariwibowo
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar