Artikel

Berwisata menyusuri desa penghasil "Rojo Lele"

Oleh Afut Syafril Nursyirwan

Berwisata menyusuri desa penghasil "Rojo Lele"

Pabrik Karung Goni peninggalan Belanda yang dijadikan obyek tujuan wisata di Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. ANTARA/Afut Syafril/aa.

Jakarta (ANTARA) - Sebagai negara agraris, sektor pertanian yang menjadi andalan Nusantara, tidak lain adalah padi yang menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia. Salah satu varietas unggulan lokal adalah beras legendaris “rojo lele”.

Tidak hanya enak, berasnya yang pulen dan wangi membuat selera makan menjadi lebih nikmat jika menyantap nasi dari beras rojo lele. Tepatnya di Desa Delanggu, sebuah lokasi di mana hamparan luas sawah selalu tersaji dalam selayang pandang.

Menjadi bagian dari Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, Delanggu pernah menjadi garda penyangga pangan nasional dengan penyumbang panen padi terbanyak. Dengan mempertahankan keunggulan lokal tersebut, masyarakat Delanggu menyambut Revolusi Industri 4.0 dengan gencar melakukan pengembangan wisata.

Soal wisata, Delanggu memiliki banyak titik pemandangan indah mengenai konsep perdesaan. Delanggu memiliki itu karena posisinya di kaki Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, di mana matahari senja hinggap di antara kedua gunung tersebut, yang di latar depannya terdapat jalanan menuju area persawahan. Sealain itu burung-burung yang hinggap secara alami di ekosistem lingkungan.

Eksan, salah satu masyarakat Delanggu yang menginisiasi sebuah perjalanan wisata yang lazim disebut “open trip” oleh para petualang milenial itu.

Kunjungan ke tempat peninggalan kolonial Belanda menjadi sajian perjalanan menyusuri Desa Delanggu, stasiun kereta api, Lapangan Merdeka, sejarah pabrik karung goni legendaris, bengkel-bengkel pandai besi tradisional yang masih memiliki mpu, perajin perkakas dapur hingga ber-swafoto bawah mata air yang sedang tren saat ini di Umbul Ponggok.

Biaya tour of Delanggu cukup terjangkau, yakni Rp350 ribu per orang untuk lamanya empat hari tiga malam, sudah termasuk transportasi, penginapan, hingga makan tiga kali sehari. Menurut Eksan, konsep tur ini belum lama dimulai, sebab pemberdayaan serta sosialisasi wisata ekonomi kreatif di desa-nya belum jamak dilakukan.

Suasana perdesaan yang masih alami tentu saja akan dirasakan oleh para penikmat petualang alam. Dengan menginap di rumah warga desa maka keakraban serta keramahan masyarakat petani akan terasa semakin akrab.

Sementara itu, monumen-monumen bangunan peninggalan kolonial Belanda menjadi salah satu kunjungan yang tidak boleh dilewatkan, seperti pabrik karung hingga stasiun KA Delanggu yang hingga kini masih aktif dilalui kereta api.

Dekat dengan berbagai umbul atau mata air, lokasi pemandian hingga swafoto bawah air menjadi primadona dalam wisata tersebut. Hal itu didukung dengan canggihnya berbagai teknologi kamera sehingga mampu menangkap ekspresi subjek di bawah air.

Seakan melengkapi tren, berbagai perlengkapan properti, bahkan mampu dibawa turut menyelam di bawah air, seperti komputer, tenda, sepeda ontel, sepeda motor, hingga becak telah disediakan sebagai pendukung swafoto bawah air.

Selain itu, wisata air juga banyak tersaji dalam kawasan desa mata air, di mana pengunjung yang membutuhkan sedikit tantangan bisa melakukan arung jeram atau susur sungai yang sudah dikelola oleh masyarakat sekitar, sehingga wisata akan terasa semakin menantang.

Sungai-sungai yang terbentang juga akan melewati hamparan-hamparan persawahan. Jika menjelang musim panen, daun padi yang masih hijau akan menjadi pencuci mata alami yang sangat memesona pada setiap sudutnya.

Pada sentra pembuatan pandai besi pengunjung juga dapat mencoba membuat bagaimana kerajinan pandai besi. Selain itu, hasil dari kerajinan juga dapat dibeli secara langsung dengan harga miring, seperti pisau, golok atau bendo, arit, hingga perkakas rumah tangga lainnya.
Pandai besi membuat bendo/golok di Desa Delanggu. (Afut Syafril)

“Ada masa periode utama open trip ini, adalah ketika kami mengadakan festival tani yaitu ‘Festival Mbok Sri Mulih’,” kata Eksan kepada Antara. Festival Mbok Sri Mulih (FMSM) merupakan rangkaian festival tradisional syukuran dari para petani atas hasil panen.


Festival Mbok Sri Mulih

"Mbok Sri Mulih" adalah bahasa Jawa yang memiliki arti "ibu Sri pulang", dalam hal ini adalah pulang ke kampung halaman. Pelaku utama dari FMSM adalah petani serta warga Desa Delanggu. FMSM juga mengundang kelompok-kelompok seni dari luar Delanggu untuk berpartisipasi dalam berbagai bentuk program, seperti pemutaran film layar tancap, pertunjukan tari, dan lain sebagainya.
Kereta kelinci untuk jelajah wisata di Delanggu. (Afut Syafril)

Kelompok-kelompok seni tersebut berasal dari Cilacap :Sangkanparan, dari Klaten: Komunitas Paguyuban Gora Swara Nusantara, Sanggar Lare Mentes, Sanggar Sayuk Rukun, Seni Janthur Panji Udan, Teater Lazuardi Laskla, Paguyuban Lesung Cawas, Paguyuban Semoyo Endo Delanggu, JBI Delanggu, GP Anshor Delanggu, Wabah Delanggu, Komunitas Tari Indebyur Solo dan dari Ngawi: perupa atau pelukis arang Budiyono Kampret.

Festival ini diselenggarakan sebagai media komunikasi warga Desa Delanggu, bukan sekadar perayaan, tetapi juga momen pendidikan berkelanjutan terkait isu agraris dari berbagai aspek. Melalui festival ini, Sanggar Rojolele, embrio dari Festival Mbok Sri Mulih, mengajak seluruh warga desa untuk menggali potensi-potensi alam, sosial, kebudayaan, serta sumber daya manusia, sebagai metode membangun peta jalan pengembangan ekosistem agraris.

Salah satu fungsi festival ini adalah penguatan atau penemuan kembali identitas kelompok dengan cara merayakan hal yang menjadi identitas kelompok tersebut.

Azas manfaat (benefit) lebih diutamakan daripada azas keuntungan secara ekonomi, di mana penyelenggaraan FMSM membuka peluang bagi penemuan identitas baru masyarakat petani Desa Delanggu.

Tidak hanya ketika pada saat festival, tour of Delanggu dapat dikunjungi oleh para petualang setiap saat.

Oleh Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kali Kadia akan jadi lokasi wisata baru di Kota Kendari

Komentar