Jakarta, 11/6 (ANTARA) - Desa Pasir Waru, Kecamatan Mancak merupakan salah satu desa yang produksi kelapanya paling banyak di Kabupaten Serang. Kelapa menjadi salah satu komoditas andalan. Desa Pasir Waru merupakan desa sekitar hutan dengan luas wilayah 1.438 Ha yang terdiri atas 459 Ha lahan pemukiman, 600 Ha lahan pertanian dan perkebunan, 224 Ha tanah kehutanan milik Perum Perhutani dan sisanya adalah lahan untuk fasilitas umum. Desa ini bisa dicapai dari pusat pemerintahan Propinsi Banten (Kota Serang) dengan menempuh jarak 27 km dan berjarak 8 km dari ibukota kecamatan. Jumlah penduduk secara keseluruhan berjumlah 3.442 orang dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 673 KK, mata pencaharian utamanya dari sektor pertanian dan perkebunan. Sejak dulu masyarakat hanya mengenal penjualan kelapa dalam bentuk butiran melalui tengkulak ke kota. Tengkulak merupakan satu-satunya distributor penjualan kelapa. "Petani tidak tahu berapa harga kelapa di kota," tutur Irham, pendamping dari LSM Asketik. Ketidaktahuan masyarakat akan informasi seputar kelapa membuat tengkulak semakin merajalela. Dari potensi yang ada, para petaninya mendapat keuntungan. Hal ini disebabkan karena keterbatasan akses informasi pasar, teknologi yang masih tradisional, dan akses modal yang relatif sulit sehingga para tengkulak dan bandar dengan leluasa menguasai pasar. Masyarakat Pasir Waru juga mengenal pembuatan minyak kelapa. Pembuatan minyak kelapa membutuhkan waktu merebus kelapa selama 4-5 jam dan energi yang lebih banyak daripada minyak sawit. Bisa ditebak, minyak kelapa menjadi tidak kompetitif dibanding minyak sawit yang harganya lebih murah. Itu dulu. Semenjak Microsoft Indonesia memberikan bantuan komputer dan internet perubahan itu mulai muncul. Internet memberikan informasi kepada masyarakat Pasirwaru tentang pembuatan minyak kelapa melalui fregmentasi. Dengan cara ini, pembuatan kelapa lebih singkat dan tidak boros energi. "Teknologi informasi ternyata bisa menghadirkan apa saja," kata Sopiana, Kepala Desa Pasir Waru. Menurut Sita Supomo, Community Affairs Manager dari Microsoft Indonesia kehadiran teknologi di Desa Pasir Waru - Mancak, Serang lebih dari pelatihan computer bagi masyarakat. "Ketrampilan yang diperoleh masyarakat di Community Technology Center atau CTC dapat membuka peluang untuk mendapatkan atau melakukan pekerjaan (employability) lebih baik serta kesempatan meningkatkan ekonomi." Katanya. "Petani di Pasir Waru, misalnya, bisa mengakses internet untuk mencari informasi harga kelapa butiran dan minyak kelapa yang tidak sama tiap hari. Hari ini harga jual kelapa butiran lebih tinggi daripada minyak kelapa. Bisa juga sebaliknya. Internet memberikan informasi mengenai harga jual. Berkat informasi ini, masyarakat dapat menentukan sendiri, kelapa dalam bentuk apa yang akan dijualnya." jelasnya lagi. Hal ini tentu saja sesuai dengan tujuan program Microsoft Unlimited Potential, khususnya Community Technology Skills, bahwa seiring dengan meningkatnya sumber daya masyarakat pedesaan, taraf hidup keluarga meningkat, ekonomi pedesaanpun ikut meningkat. Setelah mengenal internet masyarakat Pasir Waru menyadari bahwa tidak satupun komponen pembentuk buah kelapa yang tidak memiliki arti ekonomis. ASKETIK sendiri memajang hasil olahan warga setempat di situsnya, dan pembelipun datang sendiri. Pencapaian tertingginya adalah keberhasilan mereka mendapatkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengolah batok menjadi arang, daging kelapa menjadi virgin coconut oil, dan air kelapa menjadi nata de coco. "Benar kata pembina pramuka, seluruh bagian kelapa memang bisa dimanfaatkan," kata Sopiana lebih lanjut. Seluruh teknologi itu benar-benar bisa didapat dengan berselancar di dunia maya. Mereka juga berhasil menghubungi BPPT melalui email, yang kemudian memberikan mereka hibah peralatan pengolah daging kelapa menjadi virgin coconut oil. Sabut kelapa tidak kalah bergunanya. Sama dengan lainya, internet memberikan informasi pembuatan cocofiber yang bisa dijual ke pabrik. Awalnya, masyarakat menjual cocofiber dengan asal-asalan. "Belum disortir," kata Irham. Menurutnya, pabrik mempunyai standar panjang serat dan besaran campuran gabus. Ini yang sebelumnya tidak diketahui masyarakat. Kini, masyarakat Pasir Waru menjual cocofiber ke pabrik setelah melalui seleksi serat terlebih dahulu.

Pewarta:
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2008