counter

Menteri BUMN dorong kemandirian dalam pembuatan mesin

Menteri BUMN dorong kemandirian dalam pembuatan mesin

Menteri BUMN Rini M Soemarno (tengah) saat berkunjung ke Workshop Heavy Machining Center PT Barata Indonesia di Kabupaten Gresik, Jatim, Rabu (11/9) (Antara Jatim/ Abdul Malik Ibrahim)

Saya ingin agar BUMN bisa membuat mesin secara utuh, bukan cashing-nya
Gresik, Jatim (ANTARA) - Menteri BUMN Rini M Soemarno mendorong setiap perusahaan di bawah kementeriannya, khusus yang bergerak di bidang manufaktur, untuk mandiri dalam pembuatan mesin sebab selama ini hanya fokus pada komponen penggerak atau cashing dan bukan dalam bentuk utuh.

"Saya ingin agar BUMN bisa membuat mesin secara utuh, bukan cashing-nya melainkan inti mesin yang bisa menggerakkan mobil, motor dan kapal," kata Rini saat meresmikan "Workshop Heavy Machining Center" PT Barata Indonesia di Kabupaten Gresik, Jawa Timur pada Rabu.

Rini mengaku, selama ini sudah bangga dengan beberapa perusahaan manufaktur BUMN seperti PT Barata Indonesia, PT Bosma Bisma Indra dan lainnya, yang pada awal dirinya menjabat sebagai menteri kondisinya terpuruk atau rugi.

Namun, kata dia, kini menjelang berakhirnya masa jabatannya sebagai menteri, perusahaan-perusahaan tersebut mampu secara mandiri bangkit memproduksi cashing mesin melalui sinergi BUMN dan telah untung.

Oleh karena itu, Rini ingin memacu perusahaan-perusahaan tersebut untuk terus maju dan menargetkan pada akhir 2023 sudah harus mampu membuat mesin secara mandiri atau buatan BUMN hadir untuk negeri, sebagai bagian upaya kemandirian bangsa yang besar.

Baca juga: Rini percepat kemandirian produksi mesin oleh BUMN tahun 2024
Baca juga: Lima BUMN akan garap empat proyek di Laos


"Selama ini, ketika kita sudah bisa membuat alat-alat pertanian seperti traktor, namun saat ditanya mesinnya dari mana, mayoritas berasal dari China dan Korea," kata Rini, menjelaskan.

Rini mengaku tidak ingin hal ini terus terjadi ke depannya, sehingga perlu diwujudkan kemandirian dalam pembuatan mesin, dan meminta perbankan nasional mendukung upaya itu, yakni kemandirian permesinan pada perusahaan BUMN.

Sementara itu, Direktur Utama PT Barata Indonesia Oksarlidady Arifin mengatakan keberadaan Heavy Machining Center (HMC) yang terletak di Gresik adalah bagian upaya menuju kemandirian dan mendukung peningkatan kapasitas produksi perusahaan.

Ia mengatakan, keberadaan workshop tersebut dibutuhkan untuk menyokong kebutuhan perusahaan yang semakin meningkat seiring dengan perkembangan perusahaan.

Workshop HMC akan difungsikan untuk peningkatan kapasitas produksi Barata Indonesia, di antaranya peningkatan produksi balance of plant produk pembangkit listrik.

Baca juga: Rini harap Generasi Z bawa BUMN ke kancah internasional
Baca juga: Menteri Rini lantik 1.500 pegawai Perekrutan BUMN Bersama


Workshop yang dibangun dengan dana Penyertaan Modal Negara (PMN ) itu juga dilengkapi fasilitas mesin CNC bending untuk material baja dengan ketebalan 12 milimeter dengan kapasitas terbesar di Indonesia yang diharapkan bisa dimanfaatkan bersama PT PAL Indonesia (Persero) untuk pengerjaan fabrikasi kapal selam.

Selain itu, Workshop HMC juga akan digunakan untuk area fabrikasi dan assembly produk-produk konstruksi bervolume tinggi, seperti Pressure Vessel, Komponen Energi Terbarukan (Wind Power), Bullet Tank, Komponen/Body Kapal Selam, Crane Pelabuhan, Kiln, dan lainnya.

"Lini produksi baru kami, yakni Roda Kereta Api juga akan kami produksi di workshop HMC ini secara bertahap, yang akan kita awali pada akhir tahun 2019," kata Dady, panggilan akrab Oksarlidady Arifin.

Ia berharap dengan adanya HMC, Barata Indonesia menjadi perusahaan manufaktur berskala global dan terus aktif partisipasi dalam pembangunan infrastruktur dalam negeri.



 

Pewarta: A Malik Ibrahim
Editor: Apep Suhendar
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menteri BUMN kunjungi PT Freeport

Komentar