counter

REI Expo Kalbar 2019 ditargetkan raih transaksi Rp80 miliar

REI Expo Kalbar 2019 ditargetkan raih transaksi Rp80 miliar

Suasana lokasi REI Expo 2019 di PCC (dedi)

Selama lima hari ekspo kita targetkan transaksi nilainya Rp80 miliar dan target kunjungan 7.000 pengunjung. Rumah yang siap dijual di ekspo kali ini sebanyak 3.550 unit
Pontianak (ANTARA) - Dewan Pimpinan Daerah Real Estate Indonesia (DPD REI) Kalimantan Barat menargetkan transaksi dalam REI Expo 2019 yang berlangsung di Pontianak Convention Center (PCC) pada 11-15 September, akan mencapai Rp80 miliar.

“Selama lima hari ekspo kita targetkan transaksi nilainya Rp80 miliar dan target kunjungan 7.000 pengunjung. Rumah yang siap dijual di ekspo kali ini sebanyak 3.550 unit,” ujarnya Ketua DPD REI Kalimantan Barat, Muhammad Isnaini di Pontianak, Kamis.

Ia menyebutkan ekspo diikuti oleh 61 pengembang di 80 lokasi perumahan yang tersebar di Kalbar.

Baca juga: REI gandeng mitra menghadirkan pameran properti di empat kota

“Kemudian acara juga dirangkai dengan beberapa kegiatan di antaranya ada 12 lomba dan sunatan masal dan lainnya. Bahkan panitia kepada pengunjung menyediakan doorprize utamanya 1 unit rumah yang akan diundi pada malam penutupan 15 September 2019 di PCC,” kata dia.

Ia berharap melalui ekspo itu,  masyarakat mendapat informasi yang jelas tentang rumah-rumah yang dibangun pengembang serta harga, skema kredit dan uang muka.

“Selain itu kami berharap pemerintah memberikan keringanan, kemudahan perizinan, sarana dan prasaran lainnya,” jelas dia.

Baca juga: BTN kembali gelar IPEX di JCC untuk gairahkan pengembang rumah

Isnaini mengatakan kebutuhan rumah terutama bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Kalbar masih tinggi yakni lebih kurang 11.000 unit.

Terkait kuota rumah subsidi yang mau habis di Kalbar, pihaknya sudah mengajukan kepada pemerintah untuk menambahkan anggaran melalui DPP REI.

“Untuk di Kalbar kami minta 3.500 unit rumah tambahan. Untuk nasional lebih 100.000 unit kekurangannya,” katanya.

Disinggung soal dampak dari keadaan tersebut, Isnaini mengatakan saat ini pengembang tidak bisa merealisasikan akad KPR kepada masyarakat yang butuh rumah yang berakibat pengembang terganggu aliran kasnya.

"Dengan cash flow terganggu tidak bisa bayar kredit ke bank, maka tingkat kredit macet akan bertambah, kinerja bank juga terganggu kemudian pengembang tentu akan menyetop dulu proyeknya yang mengakibatkan tukang-tukang tidak ada pekerjaan dan pengangguran bertambah," sebutnya.

Baca juga: Ribuan orang padati pembukaan pameran properti IPEX 2019

 

REI DKI Siap Bangun Rusunawa Di Jakarta

 

 

Pewarta: Dedi
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar