Jakarta (ANTARA News) - Rencana pembentukan BUMN geotermal, atau BUMN pengelola panas bumi, hingga kini masih dibahas di tingkat Departemen Keuangan dan ditargetkan efektif sebelum tutup tahun 2008. "Sampai saat ini masih terus dibahas di tingkat Menteri Keuangan," kata Sekretaris Kementerian Negara BUMN, Muh. Said Didu, di Jakarta, Minggu. Ia mengatakan pihaknya optimistis BUMN panas bumi tersebut akan segera terbentuk tahun ini. Pembentukan BUMN geothermal dinilainya mendesak untuk segera dibentuk karena mulai tahun depan, pemerintah akan mencanangkan program 10.000 MW yang baru. Dan dari jumlah 10.000 MW tersebut diharapkan 5.000 hingga 6.000 MW di antaranya berasal dari energi panas bumi. "Jadi nantinya aset BUMN baru itu akan dipisahkan dari PLN dan Pertamina. Nanti kalau sudah jadi BUMN baru ditangani oleh Kemeneg BUMN," kata Said. Ia menekankan BUMN energi panas bumi itu akan murni berdiri sendiri dan tidak menjadi anak BUMN lain misalnya PLN atau Pertamina. BUMN baru tersebut merupakan peleburan Pertamina Geothernal Energy (PGE) dan PT Geodipa, sebuah perusahaan patungan Pertamina dan PLN yang 65 persen sahamnya dimiliki Pertamina dan Perusahaan Listrik Negara sebesar 35 persen. Pertamina Geothermal Energy yang direncanakan menjadi cikal bakal BUMNB baru itu saat ini menguasai 15 wilayah kerja pertambangan (WKP) panas bumi dengan daya terpasang mencapai sekitar 800 MW. WKP di antaranya berlokasi di Kamojang, Salak, dan Lahendong. Said mengatakan pihaknya sedang memusatkan perhatian untuk merealisasikan dua BUMNB baru tersebut. (*)

Pewarta:
Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2008