Bojonegoro, (ANTARA News)- Teater tradisionil Sandur, asal Desa Ledokkulon, Kecamatan Kota, Bojonegoro Jawa Timur, yang sejak lama tidak pernah dimainkan, Selasa (24/6) malam, dipentaskan di lapangan Perak di kota asalnya. Pementasan teater Sandur oleh satu-satunya kelompok teater itu yang kini ada di Bojonegoro tersebut atas prakarsa Musyawarah Guru Mata Pelajaran Seni Budaya se Kabupaten Bojonegoro. "Pementasan ini sebagai upaya melestarikan budaya lokal sesuai kurikulum, sekaligus mengangkat teater Sandur di Bojonegoro yang hampir punah, " kata Ketua Panitia Penyelenggara Zaenal Bahrain S di sela-sela acara. Pementasan teater Sandur tersebut disaksikan para guru Seni Budaya di Bojonegoro, juga masyarakat di sekitar lokasi pementasan. Kelompok Sandur, dengan jumlah sekitar 25 pemain, mulai tokoh utama, penabuh gamelan, juga pelaku atraksi jaran kepang dan kalongking, mengambarkan pesta rakyat merayakan panen. Ditemui terpisah, praktisi teater Sandur, Pramujito menjelaskan selama ini penampilan teater Sandur hanya sebatas untuk apresiasi, tidak pernah ada yang ditanggap masyarakat. Itupun rata-rata setahun hanya sekali. "Untuk tahun 2008 ya baru sekali ini, " katanya. Menurut dia, tokoh teater Sandur di Bojonegoro hanya satu yakni Mbah Kadi yang sekarang memimpin Sandur Ledokkulon. Teater Sandur menampilkan empat tokoh utama, yakni Germo, Balong, Petak dan Tangsil. Pementasan Sandur biasanya dimulai pukul 20.00 WIB hingga menjelang Subuh. Kali ini pementasan berdurasi sekitar tiga jam.(*)

Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2008