Petani Gunung Kidul diminta segera olah lahan pertanian

Petani Gunung Kidul diminta segera olah lahan pertanian

Petani di Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai menanam padi. Meski masih kemarau, wilayah ini dapat bercocok tanam karena menerapam sistem pola tanam, sehingga ada tata kelola air yang cukup bagus di wilayah ini. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Gunung Kidul (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengimbau kepada petani setempat segera mengolah lahan pertanian supaya dapat segera bercocok tanam pada awal November nanti.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul Raharjo Yuwono di Gunung Kidul, Selasa, mengatakan berdasarkan ramalan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim hujan di Gunung Kidul mulai awal November 2019.

"Kami mengimbau dan mengharapkan kepada petani segera mengolah lahannya agar jika musim hujan tiba lahan siap tanam," ujarnya.

Ia mengatakan persiapan yang harus dilakukan petani mulai dari pengolahan lahan, benih, hingga pupuk. Harapannya tidak terjadi penumpukan permintaan saat musim tanam, dianjurkan mulai melakukan penebusan pupuk bersubsidi. Dengan demikian, pada waktu dibutuhkan pemupukan pada tanaman sudah di tangan para petani.

Baca juga: Upaya Dinas Pertanian Cianjur cegah lahan sawah kekeringan meluas
Baca juga: Kementan: Musim kemarau saatnya optimalisasi lahan rawa

"Persiapan petani diperlukan, karena bisa mempengaruhi hasil produksi," katanya.

Raharjo  juga mengatakan Dinas Pertanian dan Pangan juga menyediakan bantuan benih dan sudah didistribusikan kepada petani.

Adapun bantuan yang telah disalurkan terdiri dari, benih padi gogo 500 hektare sejumlah 12,5 ton, benih padi sawah 1.000 hektare sejumlah 25 ton, benih jagung hibrida 5.000 hektare sejumlah 75 ton, benih bantuan puso 67, 4 ton benih padi dan benih desiminasi varitas unggul dari BPTP 4,7 ton.

"Kami masih ditunggu benih padi hibrida dan inbrida susulan untuk sekitar 4.000 hektare serta tambahan benih jagung hibrida 1000 hektare dari pusat,” katanya.

Sementara itu, seorang petani di wilayah Desa Putat, Kecamatan Patuk Sugiyanto mengaku sudah bersiap menyambut musim penghujan. Terlebih lahan yang sebelumnya ditanami palawija kini sudah panen.

“Karena lahan tidak nganggur selama satu tahun, butuh asupan pupuk ekstra nanti pada musim penghujan. Kami sudah menyiapkan pupuk kandang,” kata Sugiyanto.

Baca juga: Penanaman padi gogo di Bekasi diperluas jadi 19.000 hektare
Baca juga: Lahan pertanian di Dlingo Bantul terdampak kekeringan akibat kemarau

Pewarta: Sutarmi
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Presiden targetkan lahan pertanian di Sigi normal 2021

Komentar