Airnav: 400 pesawat mendarat dan terbang di Bandara Juanda tiap hari

Airnav: 400 pesawat mendarat dan terbang di Bandara Juanda tiap hari

General Manager AirNav Cabang Surabaya Yasrul. ANTARA/Ahmad Wijaya

Kami memiliki 85 personel yang terbagi dalam tiga shift untuk bekerja 24 jam per hari
Sidoarjo, Jawa Timur (ANTARA) -
Setidaknya ada 400 pesawat yang terbang dan mendarat di Bandar udara (Bandara) Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, baik rute domestik maupun internasional yang menjadikan sebagai salah satu bandara terpadat di Indonesia.

"Pesawat yang terbang dan mendarat di Juanda mulai ada yang berbadan besar, sedang, dan kecil, baik untuk penerbangan sipil maupun militer," kata General Manager AirNav Cabang Surabaya Yasrul kepada pers di Sidoarjo, Jumat.

Setiap jamnya, lanjut dia, setidaknya ada 34 yang melintas di bandara terbesar di Jawa Timur tersebut, yaitu 27 merupakan pesawat reguler, dua penerbangan ekstra, dan lima penerbangan militer.

Untuk menangani lalu lintas penerbangan yang padat tersebut, katanya, Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav Indonesia) khususnya Cabang Surabaya, telah memiliki tenaga pemandu lalu lintas udara andal yang terus mengawasi trafik pesawat selama 24 jam per hari.

"Kami memiliki 85 personel yang terbagi dalam tiga shift untuk bekerja 24 jam per hari," katanya.

Untuk mendukung keselamatan dan keamanan penerbangan setiap harinya di Bandara Juanda, AirNav Indonesia telah memasang sejumlah peralatan navigasi modern dan canggih yang digunakan pemandu lalu lintas udara, seperti Advanced Surface Movement Guidance and Control System (ASMGCS) dan Clearance Delivery Unit (CDU).

Alat-alat canggih tersebut, katanya, juga telah banyak digunakan di sejumlah negara lainnya dalam upaya memberikan keselamatan bagi penerbangan serta memudahkan pemandu lalu lintas udara dalam memantau pergerakan pesawat.

Dikatakan, fungsi ASMGCS yang dipasang di menara Air Traffic Control (ATC) untuk mengamati pesawat saat melakukan pergerakan di landas hubung (taxiway) dan landas pacu (runway). Selain itu juga untuk mendeteksi pergerakan pesawat baik menuju atau dari tempat parkir pesawat (apron) yang tidak bisa terlihat secara visul dari menara ATC jika hujan lebat.

"Sebelum ada ASMGCS keberadaan pesawat terbang hanya bisa terlihat pada siang hari saat hujan dan kondisi cuaca yang buruk. Tapi dengan ada alat itu maka pesawat bisa terlihat pada situasi apapun. Alat ini buatan Amerika Serikat yang juga bisa mengetahui posisi pesawat udara dengan akurat," katanya.

Baca juga: Garuda Indonesia mulai layani penerbangan Manado-Davao hari ini

Baca juga: AirNav pasang peralatan canggih di Bandara Juanda


Pewarta: Ahmad Wijaya
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menjaga tradisi tanpa melanggar aturan penerbangan

Komentar