New York, (ANTARA News) - Hanya beberapa jam setelah berita mengenai rencana Israel untuk membangun sebanyak 1.800 rumah baru di wilayah pendudukan Tepi Barat Sungai Jordan, negara-negara Arab, Rabu, meminta Dewan Keamanan (DK) PBB untuk menyatakan-kembali bahwa permukiman Israel di wilayah Palestina tidak sah dan mengutuk pembangunan permukiman baru di Jerusalem Timur, milik Arab. Libya, salah satu anggota DK dan pemimpin kelompok Arab di PBB, mengajukan rancangan resolusi yang menyeru Israel agar segera menghentikan perluasannya di wilayah Palestina itu, yang diduduki Israel sejak 1967. Amerika Serikat menentang tuntutan tersebut. "Bagi kami, kriteria bagi resolusi yang dapat diterima baik yang dapat membuatnya sampai ke Dewan adalah rancangan itu `seimbang`," kata Duta Besar AS Zalmay Khalilzad, saat menjelaskan bahwa pencapaian atau kemunduran dari kedua pihak dalam konflik Palestina-Israel harus tercermin di dalam rancangan tersebut. Khalilzad mendesak pemerintah Arab agar bersabar dan bekerjasama dengan Dewan guna menyelesaikan konflik Timur Tengah. Ia mengatakan Dewan Keamanan telah "bersikap bertentangan" mengenai masalah yang berkaitan dengan konflik itu dan belum dapat memainkan peran konstruktif di wilayah yang mudah bergolak tersebut. Liga Arab mendesak DK agar melakukan tindakan mengenai rancangan itu "segera". Liga Arab mengeluh bahwa rancangan resolusinya terdahulu yang diajukan satu bulan lalu mengenai masalah yang sama tentang permukiman Yahudi telah diabaikan. Rencana pembangunan permukiman oleh Israel yang dilaporkan oleh Radio Israel meliputi rumah di dua permukiman Yahudi di Jerusalem yang dibangun di wilayah pendudukan Tepi Barat. Sebanyak 900 rumah akan dibangun di Homat Shmuel G`, perluasan timur permukiman kontroversial Har Homa, di ujung selatan Jerusalem, kata Radio itu. Apartemen baru dalam jumlah yang sama juga akan dibangun di Pisgat Ze`ev barat, permukiman lain Yahudi di pinggir utara Jerusalem yang dibangun di wilayah pendudukan Tepi Barat. Komite Perencanaan dan Pembangunan kotapraja Jerusalem memberi lampu hijau awal bagi kedua proyek itu, kata Radio tersebut. Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah menyampaikan kemarahan mengenai berlanjutnya pembangunan permukiman oleh Israel di Jerusalem Timur, dan mengatakan semua itu membahayakan perundingan yang dihidupkan kembali akhir tahun lalu, setelah tujuh-tahun macet dalam proses perdamaian Palestina-Israel. Namun Israel telah berikrar akan terus membangun permukiman Yahudi seperti Har Homa dan Pisgat Ze`ev, yang telah disebutnya bagian kota yang "tak terpisahkan" dan yang ingin dipertahankannya sebagai bagian dari ibukotanya dalam kesepakatan perdamaian mendatang. Palestina menuntut Jerusalem Timur sebagai ibukota negara masa depan Palestina merdeka, demikian diwartakan DPA. (*)

Pewarta:
Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2008