Probolinggo (ANTARA News) - Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, mengakui cukup kesulitan menebak hati para kiai dan santri serta kalangan nahdliyin (warga NU/Nahdlatul Ulama) pada umumnya. Ia mengatakan hal itu di Probolinggo, Jawa Timur, Senin, dalam acara silaturahmi dengan para pimpinan Pondok Pesantren, ulama, tokoh masyarakat, Bupati dan Walikota Pasuruan serta kader inti PDI Perjuangan setempat. "Terus terang, para sahabat saya dari NU masih sulit ditebak. Kendati sudah akrab, tapi masih tanda tanya besar, kemana sebetulnya `angin akan bertiup`," kata Megawati yang memulai `road show` dua hari keliling Jatim sehubungan kampanye pemilihan gubernur Jatim. Menghadapi Pilgub Jatim, PDI Perjuangan mengusung mantan Sekjennya, Sutjipto, sebagai calon gubernur (cagub) berpasangan dengan calon wakil gubernur (cawagub) Ridwan Hisjam yang juga Ketua DPD Ormas Kosgoro 1957 Jatim. Ridwan Hisjam juga pernah menjadi mantan Ketua DPD Partai Golkar Jatim dan pimpinan Kadinda setempat juga pernah menjadi anggota DPR RI. Megawati Soekarnoputri lalu menunjuk kelima pasangan cagub-cawagub Jatim kali ini, yang nyaris tak ada satu pun yang tidak merupakan anggota Nahdlatul Ulama (NU) atau kaum Nahdliyin. "Tetapi saya tidak tahu, apa kata hati para sahabat ini. Mau kemana sesungguhnya mereka. Semua pasangan ada NU-nya. Apa karena memang para santri ini sekarang terlalu demokratis, atau berjalannya proses demokratisasi yang kian menonjol di kalangan NU," tanyanya. Kapan Seriusnya? Megawati Soekarnoputri pun menuturkan pengalamannya dua kali bermitra strategis dengan ulama-ulama besar NU. Pertama, dirinya mendampingi mantan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selaku Presiden RI, kemudian mendampingi Ketua Umum PBNU KHA Hasyim Muzadi sebagai Salon Wakil Presiden RI pada Pilpres 2004. "Ketika berpasangan dengan Pak Hasyim Muzadi, secara teoritis kami sudah menang. Tetapi itu tadi, sulit menebak hati para sahabat NU ini. Terus terang, para kiai dan ulama ini belum dapat saya raba (hatinya). Sudah manggut-manggut, saya kira sudah saya pegang.. eh.. ternyata lepas juga," katanya lagi. Ia lalu bertanya lagi, apa karena para santri itu terlalu demokratis atau karena berjalannya proses demokratisasi yang kian menonjol di kalangan NU pada umumnya. "Buktinya kan ada beberapa calon gubernur dan wakil gubernur dari kalangan NU," katanya lalu disambut senyum oleh mayoritas ulama yang hadir. Mantan Presiden RI ini kemudian menuturkan pernah mendapat pelajaran dari Gus Dur tentang bagaimana cara memahami para kiai. "Tetapi setelah berselang beberapa waktu, ketika Gus Dur bertanya kepada saya, kesimpulannya apa? Saya masih memiliki beberapa kesimpulan, sehingga Gus Dur mengatakan, kesimpulannya cuma satu, guyon-guyon aja dengan mereka, pasti klop. Nah, kalau sudah begini, kapan seriusnya," tanya Megawati Soekarnoputri yang spontan disambut tawa para ulama yang hadir.(*)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2008