Pemborosan pangan terjadi karena kurang pengetahuan proses produksi

Pemborosan pangan terjadi karena kurang pengetahuan proses produksi

CEO Tanipanen Whisnu Febry dalam diskusi di Jakarta Selatan pada Jumat (4/10) (ANTARA/Prisca Triferna)

Limbah makanan yang berada di tempat pembuangan akhir menghasilkan metana dalam jumlah yang sangat besar,
Jakarta (ANTARA) - Terjadinya pemborosan makanan kebanyakan disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan kepedulian individu akan proses produksi dari hulu ke hilir yang pada akhirnya dapat berdampak terhadap lingkungan, menurut CEO Tanipanen Whisnu Febry Afrianto.

"Orang tidak peduli dengan makanan yang mereka konsumsi adalah karena tidak cukup tahu bahwa sebenarnya asal dan proses produksi makanan yang mereka konsumsi," ungkap Whisnu dalam diskusi tentang pemborosan pangan yang diadakan di pusat kebudayaan @america di Jakarta, Jumat malam.

Menurut dia, masyarakat kurang paham bahwa makanan yang mereka konsumsi itu sudah menghabiskan proses panjang untuk sampai di pasar dan supermarket.

Baca juga: Pemborosan pangan ikut berperan dalam perubahan iklim

Oleh karena itu, ungkapnya diperlukan usaha untuk mendekatkan konsumen dengan komunitas pertanian.

Untuk itu, melalui marketshare Tanipanen dia ingin mengakomodasi usaha untuk mengurangi pemborosan pangan dan pembuangan bahan makanan yang dianggap cacat secara tampilan tapi masih berkualitas.

Usaha pengurangan pemborosan pangan dan pembuangan bahan makanan itu perlu didukung untuk mengurangi limbah organik yang tanpa disadari berkontribusi terhadap perubahan iklim, menurut salah satu pendiri Indonesian Energy and Environmental Institute (IE2I) Satya Hangga Yudha Widya Putra.

Efek dari gas metana yang dihasilkan oleh limbah sisa makanan kurang disadari oleh masyarakat Indonesia, padahal dampaknya cukup besar.

Baca juga: Pengamat: Masyarakat kurang tahu dampak limbah makanan untuk iklim

"Limbah makanan yang berada di tempat pembuangan akhir menghasilkan metana dalam jumlah yang sangat besar. Metana adalah gas rumah kaca yang lebih kuat daripada CO2," ungkap Hangga, yang juga menghadiri diskusi tersebut.

Emisi yang dihasilkan oleh limbah makanan dapat mempercepat pemanasan suhu Bumi yang berdampak terhadap perubahan iklim, ujarnya.

Indonesia adalah negara kedua yang terbanyak membuang makanan dengan data Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) pada 2016 dan 2017 mencatat setiap orang membuang sekitar 300 kg makanan per tahun.

Arab Saudi menempati posisi pertama sebagai negara yang paling banyak membuang makanan dengan total per orang membuang 427 kg makanan setiap tahunnya.

Baca juga: Komnas HAM: Perubahan iklim akan jadi masalah HAM di masa depan

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Generasi muda aksi damai sikapi perubahan iklim

Komentar