Kemristekdikti: penguatan karakter Pancasila dilakukan semua profesi

Kemristekdikti: penguatan karakter Pancasila dilakukan semua profesi

Kemristekdikti (id.wikipedia.org)

Saya pikir momen yang tepat saat ini untuk meninjau kembali cara-cara kita membangun karakter bangsa,
Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Ainun Naim mengatakan dalam memaknai Hari Kesaktian Pancasila penguatan karakter bangsa harus dilakukan dari diri sendiri dan oleh semua profesi serta kalangan.

"Penguatan karakter bangsa harus dilakukan secara menyeluruh dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, profesi, dan para pemimpin," ujarnya di Jakarta, Jumat.

Keluarga dan masyarakat berperan penting dalam menguatkan karakter bangsa mulai dr usia dini, tambahnya.

Pengamat Pendidikan Universitas Paramadina Totok Amin mengatakan perlunya penyesuaian isi dan metode penanaman nilai dengan zamannya untuk penguatan pendidikan karakter.

Baca juga: Pemerintah akan pisahkan pendidikan kewarganegaraan dan Pancasila

"Saya pikir momen yang tepat saat ini untuk meninjau kembali cara-cara kita membangun karakter bangsa. Sudah terlalu banyak petuah, upacara, dan ritual lainnya yang membuat pendidikan karakter, khususnya yang berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila, lebih relevan dan kekinian," jelasnya.

Penyesuaian itu meliputi dua aspek, yaitu isi atau konten dan media. "Isi harus disesuaikan dengan zamannya. Tidak bisa isi jadul dan biasanya di luar konteks dari kehidupan sang siswa," ujar Totok.

Menurut Totok, persoalan karakter adalah tentang isi pembelajaran yang kontekstual dan kredibel. Isi atau konten pembelajaran harus menarik dan dekat dengan kehidupan para siswa.

Baca juga: Bamsoet: MPR adalah rumah untuk mengamankan Pancasila

Pengamatan pendidikan dari Universitas Paramadina M Abduhzen mengatakan sejatinya pendidikan karakter merupakan keseluruhan proses pendidikan.

Pendidikan karakter bukan suatu mata pelajaran atau suatu program tersendiri. Hasil akhir dari pendidikan itu adalah terbentuknya karakter.

"Apabila situasi karakter bangsa dewasa ini, dinilai tidak beres, maka artinya pendidikan disfungsional. Salah satu akumulasi produk pendidikan adalah "good citizen"," ujarnya.

Menurut Abduhzen, seharusnya semua proses pembelajaran adalah menyumbang pada pembentukan dan penguatan karakter.

"Persoalan yang perlu mendapat penekanan dewasa ini adalah masalah "how to live together with others" (bagaimana hidup bermasyarakat) dalam bangsa yang majemuk ini. Selain itu, penekanan pada moral dan tanggung jawab," tambahnya.

Baca juga: JPPI: bumikan Pancasila jadi karakter bangsa Indonesia sejak dini

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar