Jakarta, (ANTARA News) - Pemerintah Republik Indonesia dan Malaysia, di Jakarta, Sabtu, menyepakati enam Nota Kesepahaman (MoU) kerjasama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. "Kami baru saja menandatangani enam MoU kerjasama yang diharapkan dapat segera diwujudkan dalam langkah konkrit," kata Menteri Ilmu Pengetahuan, teknologi dan Inovasi Malaysia, Datuk Maximus Ongkili. Menurut dia, Indonesia dan Malaysia memiliki potensi untuk meningkatkan kemampuan sumber daya alam dan manusia guna mencapai hasil terbaik dalam ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya pada khususnya dan ASEAN pada umumnya. Sementara itu Deputi Menteri Riset dan teknologi RI Teguh Rahardjo mengatakan bahwa Indonesia dan Malaysia secara tradisional memiliki berbagai macam jenis kerjasama yang dikemudian hari akan menghasilkan kesejahteraan dan kestabilan di bidang ekonomi dan sosial. Enam Nota Kesepahaman yang berada di bawah payung kerjasama antara Kementerian Riset dan Teknologi RI serta Kementerian Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi Malaysia itu adalah kerjasama antara MIMOS (Malaysian Institute of Microelectronic Systems) dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan Universitas Indonesia (UI) di bidang teknologi informasi dan komunikasi, kerjasama Badan Pengawasan Tenaga Nuklir (Bapeten) dengan Atomic Energy Licensing Board (AELB) dan kerjasama Malaysian Industry-Government Group for High Technology (MIGHT) dengan Surfactant and Bioenergy Reasearch Centre (SBRC) dan Biomac Corporation Institut Pertanian Bogor (IPB). "Kerjasama AELB dengan Bapeten adalah dalam bentuk pertukaran pengetahuan dan kepakaran terkait dengan peningkatan kapasitas sumber daya AELB untuk meningkatkan standar keamanan nuklir di Malaysia," kata Teguh. Nota Kesepahaman itu dikemudian hari diharapkan dapat menjadi unsur pendorong untuk kerjasama lebih lanjut mengenai keamanan nuklir dan perlindungan radiasi antar badan (nuklir) di ASEAN. Sementara itu kerjasama antara MIGHT dengan IPB terkait dengan pencarian sumber bahan bakar terbarukan, biofuel, dari minyak jarak. Menurut keterangan penanggung jawab program SBRC IPB Erliza Hambali, SBRC IPB telah diakui kemampuannya oleh Malaysia terutama dalam hal jarak pagar dari budidaya, pengolahan, hingga pemanfaatan hasil sampingan. Di awal penerapan MoU, SBRC IPB dan MIGHT akan mengembangkan budidaya jarak yang ditujukan untuk produksi bio bahan bakar dan penerapan mekanisme energi terbarukan di bidang industri. Kolabolarasi itu, lanjut dia, akan memungkinkan hubungan langsung antara lembaga penelitian, instansi pemerintah dan swasta kedua negara untuk pengembangan jarak sebagai sumber bio energi yang dikemudian hari diharapkan akan menciptakan lebih banyak peluang bisnis.(*)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2008