Majelis hakim tidak lengkap, putusan Ambulans 21-22 Mei ditunda

Majelis hakim tidak lengkap, putusan Ambulans 21-22 Mei ditunda

Terdakwa kasus Ambulans pembawa batu pada demo ricuh 21-22 Mei keluar dari ruang Sidang Oemar Seno Adji I setelah terjadi penundaan sidang, Selasa (8/10/2019). (Antara/Livia Kristianti)

Hakimnya hanya dua dan satu berhalangan sehingga ditunda
Jakarta (ANTARA) - Sidang pembacaan putusan untuk kasus Ambulans milik DPC Partai Gerindra pembawa batu dalam kericuhan 21-22 Mei dan melibatkan lima orang terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, ditunda karena majelis hakim belum lengkap. 

"Hakimnya hanya dua dan satu berhalangan sehingga ditunda karena harus musyawarah lagi dan itu membutuhkan anggota majelis hakim lengkap," kata Nurhayati, salah satu anggota tim Penasehat Hukum kelima terdakwa ambulans 21-22 Mei saat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa.

Seharusnya sidang pembacaan putusan dilakukan pada Selasa (8/10) pukul 16.00 WIB ruang sidang Oemar Seno Adji I namun akibat tidak lengkapnya anggota Majelis Hakim maka sidang diputuskan untuk ditunda hingga Kamis (10/10) oleh Ketua Majelis Hakim Purwanto.

Baca juga: Massa depan Gedung Bawaslu RI ricuh

Penundaan sidang tersebut telah disetujui oleh pihak Penasehat Hukum dan juga Jaksa Penuntut Umum yang menghadiri sidang itu.

Kelima orang itu adalah Yayan Hendrayana, Iskandar Hamid, Obby Nugraha dari kader Gerindra asal Tasikmalaya.

Lalu, Surya Gumala Cibro dan Hendri Syamrosa dari FPI (Front Pembela Islam) asal Riau.

Berdasarkan keterangan penasehat hukum, kelima orang tersebut dituntut Pasal 218 KUHP dengan hukuman kurungan penjara selama empat bulan.

Baca juga: Massa aksi protes damai terus berdatangan di depan Bawaslu RI

Sebelumnya pada pembacaan dakwaan dibacakan tiga dakwaan alternatif yaitu Pasal 170 ayat 1 juncto Pasal 53 ayat 1 KUHP, lalu Pasal 212 juncto Pasal 214 ayat 1 KUHP, dan Pasal 218 KUHP.

Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jalan di depan gedung Bawaslu mulai dibuka

Komentar