Jakarta (ANTARA News) - Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) meminta agar isu gas alam cair (liquified natural gas/LNG) Tangguh, Papua tidak dipolitisasi. Deputi Operasi BP Migas Eddy Purwanto di Jakarta, Rabu mengatakan, politisasi Tangguh akan mengganggu proses renegosiasi yang tengah berlangsung antara Pemerintah Indonesia dan pembeli. "Janganlah (LNG Tangguh) ini dipolitisasi, karena akan mengganggu proses renegosiasi yang tengah berlangsung," katanya. Menurut dia, saat harga LNG Tangguh dengan Fujian, China disepakati tahun 2002, baik tim negosiasi, menteri, hingga presiden, sudah berkerja optimal, sehingga tidak bisa disalahkan. Harga yang terbentuk waktu itu, lanjutnya, sudah maksimal. "Tidak ada seorangpun di dunia ini yang memperkirakan harga minyak di atas 100 dolar AS per barel seperti sekarang ini," katanya. Eddy mengatakan, antara 2001-2003, ada sebanyak sembilan kontrak gas termasuk Tangguh yang harga terbentuknya serupa. Saat itu, kontrak menggunakan batas atas harga Japan Cocktail Crude (JCC) antara 23-26 dolar AS per barel. Harga kontrak LNG Tangguh ke Fujian memakai batas atas JCC sebesar 26 dolar AS per barel, LNG Darwin, Australia 23 dolar AS, LNG Qatar 24 dolar AS, LNG Oman 25 dolar AS, dan LNG Sakhalin, Rusia 25 dolar AS. "Saat itu, semua pembeli mensyaratkan pemakaian batas atas. Harga LNG Fujian sudah mewakili pasar saat itu," katanya. Eddy juga menambahkan, selama 30 tahun antara 1970-2000, harga gas ditentukan penjual karena produsen gas hanya sedikit yakni Indonesia, Malaysia, dan Brunei, sedangkan pembelinya banyak. Sedang, setelah tahun 2000, saat negosiasi dengan Fujian, kondisi pasar telah berubah dengan harga gas ditentukan pembeli, karena produsennya sudah banyak. "Saat itu, masuk produsen dari Qatar, Oman, Nigeria, Aljazair, Australia, Alaska, dan Sakhalin. Jadi, kalau kita pasang harga tinggi, maka gasnya tidak laku," katanya. Eddy juga mengatakan, pemerintah dan BP Indonesia juga beberapa kali ikut tender untuk menawarkan Tangguh, namun selalu kalah karena harganya dinilai kemahalan. "Kami pernah ikut tender di Guangdong dan Taiwan, tapi kalah, karena ada yang menawarkan lebih murah," ujarnya. Akhirnya, pemerintah dan BP mencari jalan lain untuk menjual Tangguh dengan melakukan pendekatan antarpemerintah (g to g). "Tahun 2000-an, hubungan Indonesia dan China berjalan baik. Kami dapat jual Tangguh ke China tanpa tender melalui jalur g to g," katanya. Penerimaan bertambah Eddy juga menambahkan, pada Maret 2006, harga JCC Fujian telah mengalami kenaikan dari 25 dolar AS ke 38 dolar AS per barel. "Kenaikan JCC itu menambah penerimaan negara 1,4 miliar dolar AS," katanya. BP Migas dan BP Indonesia, lanjutnya, juga telah berhasil mengalihkan sebagian kontrak Tangguh dari Sempra, AS ke Korea Gas (Kogas), Korsel dengan harga 20 dolar AS per juta british thermal unit (MMBTU). Dengan pengalihan kontrak Sempra tersebut, maka harga rata-rata LNG Tangguh dengan asumsi JCC 120 dolar AS per barel dan harga gas South California (SoCal) 10 dolar per MMBTU akan menjadi 8,21 dolar AS per MMBTU. "Potensi kenaikan nilai kontrak LNG Tangguh akan mencapai 19,7 miliar dolar AS," katanya. Eddy juga mengatakan, harga ke Kogas tersebut akan menjadi harga kontrak gas tertinggi yang pernah dilakukan Indonesia. Kemungkinan volume LNG yang dialihkan ke Kogas akan mencapai satu juta ton per tahun dan waktu pengiriman antara 2010-2012. Harga LNG Tangguh sebesar 20 dolar AS per barel merupakan harga kontrak di lokasi pembeli dengan asumsi harga JCC 120 dolar AS per barel. Pembelian LNG oleh Kogas tersebut merupakan opsi pengalihan kontrak ke Sempra dengan volume maksimal 1,8 juta ton per tahun. Eddy juga mengatakan, pihaknya tengah mengupayakan pengalihan kontrak Sempra ke Jepang dan Thailand. "Kami sedang negosiasikan dengan Tohoku, Jepang dan PTT, Thailand," katanya. (*)

Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2008