Walhi: Pencemaran udara di Palembang level sedang

Walhi: Pencemaran udara di Palembang level sedang

Sejumlah mahasiswa asal Malaysia mengenakan masker di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Kota Pekanbaru, Riau, Rabu (25/9/2019). Pemerintah Malaysia mulai mengevakuasi mahasiswanya dari Provinsi Riau dan Jambi karena pertimbangan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sudah mengakibatkan polusi udara dalam kategori berbahaya. ANTARA FOTO/FB Anggoro/hp.

Palembang (ANTARA) - Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Sumatera Selatan menyatakan pencemaran udara di Kota Palembang dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah sekitar masih terjadi dan sekarang ini memasuki level sedang.

"Asap Karhutla sejak beberapa hari ini kembali mencemari udara di Palembamg dan daerah sekitarnya dengan kondisi terus memburuk. Permasalahan ini perlu segera diatasi agar tidak meningkat ke level tidak sehat hingga membahayakan kesehatan masyarakat," kata Direktur Eksekutif Walhi Sumsel Hairul Sobri, di Palembang, Rabu.

Kualitas udara sekarang ini kurang baik karena dicemari asap dari Karhutla yang terjadi di sejumlah daerah seperti Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Banyuasin, dan Kabupaten Musi Banyuasin.

Kualitas udara di Ibu kota Provinsi Sumsel itu mencapai level 52 hingga 55 mikrogram/m3 atau sedikit lebih tinggi dari hari sebelumnya berkisar 51-52 mikrogram/m3.

Sesuai kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), jika kualitas udara berada pada level 0-50 mikrogram/m3 dalam kondisi baik, sedangkan pada level 50-150 sedang, 150-250 tidak sehat, 250-350 sangat tidak sehat, dan pada level lebih dari 350 mikrogram/m3 berbahaya.

Melihat perkembangan data kualitas udara (PM 10) di Kota Palembang dan sekitarnya sekarang ini memburuk, diharapkan pihak BPBD Sumsel dan tim Satgas gabungan siaga darurat asap untuk melakukan tindakan penanggulangan Karhutla agar tidak semakin luas dan asapnya tidak menimbulkan pencemaran udara yang semakin parah mencapai level bahaya bagi kesehatan masyarakat.

Berdasarkan fakta tersebut, pemerintah pusat dan daerah harus bertindak cepat menangani ancaman bahaya asap dari kebakaran hutan dan lahan itu.

"Negara bertanggung jawab atas udara bersih dan sehat untuk rakyat, oleh karena itu harus melakukan tindakan cepat menanggulangi bencana asap yang mulai mengganggu kesehatan dan berbagai aktivitas masyarakat," ujar Direktur Walhi Sumsel.

Sementara selumnya Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang dr Letizia mengatakan pihaknya menyiagakan tim untuk mengantisipasi terjadinya peningkatan penderita infeksi saluran pernapasan akut (Ispa) pada kondisi kualitas udara yang akhir-akhir ini kurang baik akibat terpapar asap Karhutla.

Tim yang siaga di puskesmas dan rumah sskit umum daerah setiap waktu siap memberikan pelayanan kepada warga kota yang mengalami gangguan kesehatan.

Berdasarkan data sementara dari puskesmas dan rumah sakit, dalam dua bulan terakhir tercatat ratusan warga terkena ispa yang telah diberikan pelayanan kesehatan dengan baik.

Guna mencegah semakin banyak warga terkena ispa, pihaknya berupaya mengimbau warga agar menggunakan masker untuk meminimalkan kontak langsung dengan asap dampak kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah daerah Sumatera Selatan.

Selain menggunakan masker, untuk menghindari penyakit Ispa dan gangguan kesehatan lainnya akibat udara tercemar asap Karhutla, warga diimbau untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), ujar Kadinkes.
Baca juga: Asap kiriman, kualitas udara di Palembang kembali memburuk
Baca juga: Kota Palembang kembali diselimuti asap
Baca juga: Walhi Sumsel: Kualitas udara di Palembang bahaya

Pewarta: Yudi Abdullah
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar