counter

Jumat pagi kualitas udara Jakarta turun peringkat keempat terburuk

Jumat pagi kualitas udara Jakarta turun peringkat keempat terburuk

Ilustrasi. Suasana kota Jakarta yang tertutup asap putih dilihat dari bangunan Rusunawa Semper Barat di Jakarta, Senin (23/9/2019). ANTARA/Muhammad Adimaja

Jakarta (ANTARA) - DKI Jakarta menempati peringkat keempat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, Jumat pagi, peringakat ini turun satu level dari hari sebelumnya  di peringkat ketiga.

Berdasarkan data dari laman AirVisual.com pada pukul 05.27 WIB Jumat, kualitas udara Jakarta saat ini mencapai angka 168 berdasarkan AQI atau indeks kualitas udara dengan status udara tidak sehat.

Peringkat tersebut setara dengan nilai polutan sebesar 87,9 µg/m³ dengan perimeter PM 2.5.

Kualitas udara terburuk pertama ditempati oleh Kota Lahore di Pakistan dengan nilai cukup tinggi yakni 203 atau sangat tidak sehat berdasarkan AQI, angka ini setara dengan PM2.5 sebesar 152,5 µg/m³.
Baca juga: Jakarta duduki posisi ketiga kualitas udara buruk Kamis Pagi

Pada posisi kedua ditempati oleh Kota Delhi di India dengan status udara tidak sehat dengan indeks 181 berdasarkan AQI atau setara dengan PM2.5 sebesar 113,5 µg/m³.

Di posisi ketiga Kota Dubai di Uni Emirat Arab memiliki kualitas udara terburuk di dunia dengan AQI sebesar 176 atau setara PM2.5 sebesar 104,4 µg/m³.

Dan di posisi kelima ada Beijing, China memiliki kualitas udara terburuk di dunia dengan AQI setingkat di bawah Malaysia yakni sebesar 159 atau setara PM2.5 sebesar 73 µg/m³.

Kelima negara tersebut memiliki status udara tidak sehat dan masyarakat lebih disarankan untuk beraktivitas di dalam ruangan.
Baca juga: Kualitas udara kawasan Rawamangun terburuk se-Jakarta

Jika masyarakat ingin beraktivitas di luar ruangan, pemakaian masker dianjurkan agar tidak terpapar partikel halus udara yang berbahaya bagi kesehatan saluran pernafasan.

Sejak Agustus 2019, masyarakat Jakarta harus menghirup udara dengan kualitas udara yang buruk berdasarkan laporan kualitas udara di situs AirVisual.com.

Kualitas buruk ini berakhir di meja hijau oleh kelompok masyarakat bernama Ibu Kota yang menggugat 7 jabatan penting di Indonesia, dua di antaranya adalah Presiden Republik Indonesia dan Gubernur Provinsi DKI Jakarta.
Baca juga: Jumat pagi, Jakarta peringkat kedua kualitas udara terburuk sedunia
 

Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pengamat: perluasan ganjil genap tak kurangi volume

Komentar