Lestarikan budaya melalui jurus "Kuntaw" dan pantun "Mamanda"

Oleh Iskandar Zulkarnaen

Lestarikan budaya melalui jurus "Kuntaw" dan pantun "Mamanda"

Tarian Bulungan saat Mamanda. ANTARA/Iskandar Zulkarnaen/am.

Tanjung Selor (ANTARA) - Di tengah keterbatasan dana, defisit anggaran serta berbagai dalih kekurangan lainnya, namun perayaan Hari Jadi Kota Tanjung Selor dan Kabupaten Bulungan pada 12 Oktober 2019 cukup istimewa.

Sebelum "hari H", masyarakat banyak yang mengeluhkan, lebih tepat memprotes --terutama warganet di medsos-- tentang perayaan Hari Jadi atau HUT (Hari Ulang Tahun) Kota Tanjung Selor dan Bulungan yang kian sepi.

Mereka membandingkan dengan kondisi beberapa tahun lalu.

Beberapa tahun lalu, menjelang HUT digelar berbagai keramaian dan perlombaan dan pertandingan.

Misalnya pameran pembangunan di Lapangan Agatis selama sepekan hingga 10 hari.

Lomba tradisional juga digelar antara lain menyumpit, gasing, gulat tradisional dan dayung perahu naga.

Termasuk acara sakral penyambutan tamu kehormatan dengan "Biduk Babandung" (sebuah pendopo terapung yang lengkap dengan alat musik dan penari).

Sedangkan beberapa tahun terakhir, banyak warga protes karena kegiatan HUT kian sepi, termasuk hari jadi pada 2019.

Tidak ada ada perayaan fenomenal --sangat dinanti masyarakat-- padahal berpotensi untuk obyek wisata budaya serta dikembangkan untuk cabang olahraga Kaltara, yakni lomba perahu naga.

Setiap lomba ini digelar, ribuan warga Kota Tanjung Selor dan Tanjung Palas memenuhi Tepian Kayan untuk menyaksikan serta menyemangati tim yang berlomba.

Salah seorang pengurus tim perahu Naga "Kelawor" Datu Isa Ansari mengaku kecewa tidak digelar lagi lomba.

Padahal, bagi mereka hadiah bukanlah utama namun terpenting adalah semangat untuk berlomba itu perlu terus hidupkan, terutama dalam mendukung kemeriahan hari jadi di Bulungan.

Baca juga: Saksi bisu yang terabaikan di hari jadi Bulungan

Baca juga: "Biduk bebandung", antara hikayat dan sejarah


"Kuntaw" dan "Memanda"
Silat Mamanda (ANTARA/iskandar Zulkarnaen)


"Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan".

Tampaknya, peribahasa itu yang tepat diberikan kepada panitia penyelenggaran karnaval budaya menyambut hari jadi.

Di tengah berbagai keterbatasan itu, panitia merangkai kegiatan karnaval budaya dengan menggelar "Kuntaw" (seni bela diri silat) dan "Mamanda" (seni drama).

Kuntaw dulunya sangat digemari. Setiap anak laki-kaki di Bulungan dulu wajib membekali diri dengan ilmu seni bela diri ini.

Beberapa perguruan silat sempat berdiri. Namun, Kuntaw yang merupakan warisan budaya itu kian redup akibat kurang diminati generasi muda.

Bahkan, dalam beberapa dasawarsa sudah tidak pernah dipertunjukan, kecuali masih dipelajari secara terbatas sebagai warisan.

"Lilin" lain yang menyala di tengah redupnya perayaan seni budaya pada hari jadi 2019, yakni dihidupkan lagi Mamanda.

Padahal seni drama ini mencapai masa keemasan sejak era Kesultanan Bulungan hingga 1970-an dan 1980-an.

Mamanda mulai redup ketika siaran televisi "hitam-putih" (tanpa warna) hadir.

Di Bulungan saat itu hanya bisa menangkap siaran TV Malaysia, mengingat wilayah daerah ini dekat dengan Tawau, Sabah, Malaysia bagian timur.

Siaran "TV hitam putih" Malaysia rutin memutar film cerita tentang kisah kerajaan Melayu, seperti Hikayat Hang Tuah sehingga menggerus Mamanda, mengingat cerita-cerita diangkat juga umumnya hikayat Melayu.
Alat musik Mamanda (ANTARA/iskandar Zulkarnaen)

Baca juga: Ribuan peserta pawai budaya meriahkan HUT Bulungan

Baca juga: Pawai obor meriahkan malam takbiran Idul Adha Bulungan

Terancam Punah

Ketua Adat Bulungan Kaltara Datu Buyung Perkasa mengakui bahwa alasan panitia menghidupkan kembali seni budaya drama Mamanda karena kian terancam punah

Berkat dukungan tetua adat serta mantan pelakon (pemain drama) Mamanda yang umumnya sudah sepuh sebagai penasehat, maka seni drama itu ditampilkan.

Seni drama Mamanda dianggap cukup signifikan untuk menghidupkan seni budaya lain.

Hal itu karena dalam seni drama Mamanda terdapat seni berpantun, menyanyi, menari, silat hingga melawak.

Sejumlah anak anak mudah telah dilatih untuk memainkan musik melengkapi Mamanda.

Seperti terlihat saat pawai atau karnaval mulai digelar.

Sebelum, karnaval budaya digelar, para pemain seni Drama Mamanda melalukan pementasan singkat dengan menyampaikan pantun, tarian, silat, nyanyian dan tarian di depan podium.

Di podium tampak Wakil Bupati Bulungan Ingkong Ala dan istri, Ketua Lembaga Adat Bulungan Kaltara Datu Buyung Perkasa serta unsur pejabat musyawarah daerah di Bulungan sebagai tamu kehormatan.

Beberapa warga berharap agar acara setiap 12 Oktober itu bisa di kemas dengan baik agar bisa menjadi obyek wisata budaya yang bisa diandalkan.

Sementara itu Kepala Diskominfo Provinsi Kalimantan Utara Syahrullah Mursalin menyambut positif dihidupkan lagi Mamanda.

Pihaknya ingin menginisiasi agar Mamanda benar benar dihidupkan lagi sebagai salah satu media menyebarkan berbagai program pembangunan daerah.

Ia optimistis Mamanda bisa menjadi sebuah pertunjukan yang diminati oleh generasi muda jika dikemas secara baik dan kekinian.

Perlu sebuah kreatifitas dan inovasi sehingga nilai budaya lama tetap lestari namun ada bagian tertentu
yang menyesuaikan zaman sehingga memikat generasi melenial.

Terobosan dalam memoles Mamanda diharapkan bukan hanya menjadi pertunjukan menarik tetapi
menjadi kebanggaan generasi melenial sehingga terlibat di dalamnya.

Tampaknya, keterbatasan justru bisa menjadi peluang, seperti keberadaan jurus Kuntaw dan pantun Mamanda di hari Kota Tanjung Selor ke-229 dan Kabupaten Bulungan ke-59.
 
Wakil Bupati Bulungan Ingkong Ala dan istri serta Ketua Adat Bulungan Kaltara Datu Buyung Perkasa (ANTARA/iskandar Zulkarnaen)

Oleh Iskandar Zulkarnaen
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar