NTRL kobarkan semangat Musik Untuk Republik lewat lagu nasionalis

NTRL kobarkan semangat Musik Untuk Republik lewat lagu nasionalis

Grup band NTRL saat meluncurkan boxset "NTRL XXV" di kantor Kaskus, Jakarta, Selasa (15/1/2019) (Antara News/Maria Cicilia Galuh)

Jakarta (ANTARA) - Band rock NTRL tampil dengan beberapa lagu bertema nasionalis pada Konser Musik Untuk Republik di Cibubur, Jakarta, Sabtu malam.

"Hari Merdeka" dan "Garuda di Dadaku" menjadi sajian dari NTRL yang diharapkan dapat mengobarkan semangat nasionalis para penonton yang hadir.

Sebelum mereka membawakan dua tembang itu, NTRL naik ke atas panggung dengan memainkan "Pertempuran Hati" sebagai lagu pembuka pada Sabtu malam.

"Oke kita lanjut? Lagu ini tentang cinta kepada Yang Maha Kuasa, karena cinta kepada Yang Maha Kuasa akan mengingatkan kita semua akan ke mana kita kembali," ujar Bagus vokalis NTRL.

Baca juga: Harapan Voodoo untuk Jokowi: Semoga banyak acara musik berkualitas

Baca juga: Nostalgia bersama Bunga, "Ojo Ngono" hingga "Kasih Jangan Kau Pergi"


"Terbang Tenggelam" yang populer melalui album "Putih" pada 2005 membuat penonton semakin riuh di depan panggung.

"Saya melihat bermacam genre hadir disini. Kita harus bersatu untuk Indonesia, jangan ada kerusuhan dan perpecahan di Indonesia," ucap Bagus.

Masih dari album yang sama, NTRL membawakan lagu "Sorry". Lagu yang bersyair sentimentil itu membuat penonton larut hingga menyalakan flash light melalui ponsel mereka.

"Kita akan membawakan lagu nasional, kan semua sudah membawakan lagu kemerdekaan atau nasional. Coba yang di sebelah kanan tahu enggak lagu kemerdekaan?," tanya Bagus.

"Hari Merdeka" menjadi lagu keempat dari band yang beranggotakan Eno sebagai drummer, Choki sebagai gitar dan Bagus sebagai vokalis.

"Garuda Di Dadaku" yang kental nuansa nasionalis menjadi sajian penutup dari NTRL.

Baca juga: Kelucuan NTRL saat manggung

Baca juga: Histori Rock Indonesia, Slank tawarkan pilihan berbeda

Baca juga: Histori Rock Indonesia, saat musik cadas kian berwarna di 90-an

Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar