Balai Arkeologi temukan tiang rumah prasejarah di Danau Sentani

Balai Arkeologi temukan tiang rumah prasejarah di Danau Sentani

Salah satu tiang rumah prasejarah di perairan Danau Sentani bagian barat, Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua. ANTARA /HO-Balai Arkeologi Papua

penelitian ini melibatkan nelayan tradisional Sentani yang terbiasa dengan molo
Jayapura (ANTARA) - Balai Arkeologi Papua dalam penelitian di perairan Danau Sentani bagian barat, Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua kembali menemukan tiang rumah prasejarah.

Hari Suroto, salah satu peneliti senior dari Balai Arkeologi Papua saat berada di Kota Jayapura, Minggu mengatakan penelitian tersebut merupakan penelitian lanjutan di Situs Ayauge.

Pada penelitian sebelumnya, tahun 2018, kata dia, tim peneliti dari Balai Arkeologi Papua berhasil menemukan tiang-tiang rumah dari pohon soang (Xanthostemon sp) di Situs Ayauge.

Tiang-tiang ini merupakan bekas hunian prasejarah berupa rumah panggung di atas permukaan air. Pada penelitian 2018, hanya dilakukan survei permukaan air saja, sehingga hanya diketahui adanya bekas-bekas tiang rumah.

"Dalam penelitian Oktober 2019, lebih difokuskan pada peninggalan yang berada di bawah air, penelitian ini melibatkan nelayan tradisional Sentani yang terbiasa dengan molo, yaitu menangkap ikan dengan menyelam," katanya.

Baca juga: Balai Arkeologi temukan gigi manusia prasejarah di Situs Yomokho-Papua

Baca juga: Balai arkeologi Sumsel tinjau lokasi penemuan harta karun Sriwijaya

Para nelayan tradisional Sentani ini, ungkap dia, mampu menyelam cukup lama tanpa menggunakan alat selam. Eksplorasi bawah air di Situs Ayauge, berhasil mendapatkan pecahan gerabah berdinding tebal, alat tulang, dan mata panah terbuat dari kayu soang.

"Kayu soang dikenal sebagai kayu keras dan mampu bertahan lama hingga ratusan tahun sehingga secara tradisional oleh masyarakat Sentani dijadikan sebagai tiang rumah dan peralatan hidup lainnya," katanya.

Berdasarkan pengamatan terhadap pecahan gerabah Situs Ayauge, memiliki ketebalan yang sama dengan gerabah yang ditemukan di Situs Megalitik Tutari, Doyo Lama. Hal ini diperkirakan berasal dari tempat yang sama.

Secara tradisional, gerabah di Sentani diproduksi di Kampung Abaar, Sentani Tengah. Namun hasil analisis X-Ray Diffraction (XRD) terhadap gerabah Abar dan gerabah Situs Megalitik Tutari, kandungan mineral pada tanah liat kedua gerabah tersebut tidak sama.

"Hal ini membuktikan bahwa gerabah Situs Megalitik Tutari dan Situs Ayauge tidak dibuat di Abaar," katanya.

Lalu, kata Hari, berdasarkan temuan terbaru berupa gerabah motif buaya di Situs Yope, maka diperkirakan gerabah Situs Megalitik Tutari dan gerabah Situs Ayauge dibuat di Yope, Danau Sentani bagian barat.

Secara terpisah terkait temuan tersebut, Kepala Bidang Kebudayaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura Elvis Kabey mengatakan pihaknya akan terus bekerja sama dengan Balai Arkeologi Papua untuk melakukan penelitian di kawasan Danau Sentani.

"Kerja sama ini selain menemukan situs arkeologi baru juga untuk melakukan kajian berkaitan dengan pelestarian dan pengembangan situs arkeologi yang ditemukan," katanya.

Baca juga: Ekskavasi Balai Arkeologi Papua temukan obsidian
Baca juga: Arkeolog identifikasi benteng berciri Eropa di Tidore
Baca juga: Peneliti telusuri jejak hunian kuno di Manusela

Pewarta: Alfian Rumagit
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar