Kisah para pengungsi di film pendek sutradara Suriah-AS Akram Shibly

Kisah para pengungsi di film pendek sutradara Suriah-AS Akram Shibly

Sutradara Suriah-Amerika Serikat Akram Shibly di @america, Pacific Place Mall, Jakarta, Selasa (22/10/2019). (ANTARA News/Nanien Yuniar)

Jakarta (ANTARA) - Tiga film pendek dari sutradara Suriah-Amerika Serikat, Akram Shibly diputarkan berturut-turut di At America, Pacific Place Mall, Jakarta, Selasa, sebagai bagian dari Madani Film Festival (MFF) 2019.

"Waiting at the Door" (2015) berisi secuplik kisah para pengungsi Suriah yang menanti kedamaian agar bisa kembali ke kampung halaman.

Salah seorang pengungsi mengatakan, tidak ada yang lebih baik dari pulang ke rumah, tak peduli tempat tinggalnya hanyalah gubuk bobrok menyedihkan. Walau bisa bertahan hidup berkat melarikan diri ke tempat lain, ia merasa jiwanya terenggut ketika tak ada lagi tempat yang untuk pulang: rumah.

Baca juga: Madani Film Festival 2019 angkat tema "Reconcile"

Film kedua, "In Their Footsteps" (2018), bercerita tentang perjalanan napak tilas para pemimpin hak sipil muslim Amerika, termasuk muslim Afrika-Amerika, mengenang pengorbanan nenek moyang mereka yang memperjuangkan hak-hak di tengah segregasi dan rasisme, meski nyawa taruhannya.

Terakhir, film yang baru tayang perdana secara global petang ini, "From a Distance", perjalanan personal Akram yang dibesarkan di Amerika ke pengungsian di kampung halamannya. Andai saja orang tuanya tidak pergi ke Amerika Serikat demi pendidikan, Akram akan mengalami nasib yang sama seperti orang-orang yang ia rekam dalam kamera.

Usai pemutaran, Akram bercerita pada penonton bahwa dia punya cita-cita membuat film fiksi sebelum menelurkan karya-karya dokumenter.

"Waktu saya belajar film, pada saat yang sama terjadi perang di Suriah," katanya.

Baca juga: Garin apresiasi identitas Islam diberi kanal festival film

Baca juga: Pembukaan Madani Film Festival diwarnai isak tangis


Sebelum perang terjadi, pria yang besar di Amerika Serikat itu biasanya berkunjung ke kampung halaman di kota Damaskus setiap libur musim panas untuk bertemu dengan keluarga besarnya. Kota Damaskus adalah rumah keduanya.

"Jadi ketika perang terjadi, saya merasa bertanggungjawab untuk menyarakan suara orang-orang Suriah melalui keahlian saya, yakni membuat film," Akram mengungkapkan alasannya membuat dokumenter.

Ketika kembali ke Suriah untuk membuat film, Akram mengaku ada sebersit rasa bersalah karena ia termasuk orang beruntung yang bisa hidup sejahtera dan damai di benua lain di saat saudara-saudaranya di Suriah terkena dampak perang.

"Tapi saya berharap lewat karya ini, saya bisa membuat sedikit perubahan," katanya.

Apa yang ia sampaikan lewat film-film dokumenter tentang pengungsi Suriah bukan cuma soal mengumandangkan suara mereka yang tak terdengar. Ia ingin apa yang tersaji di film tersebut dapat mengetuk hati penonton untuk membantu kaum-kaum terlantar dan terkucil di sekitarnya.

"Kita bisa membuat perubahan dari lingkup kecil," ujar sineas yang lebih suka disebut pencerita ketimbang pembuat film.

Baca juga: Film Indonesia butuh perspektif perempuan

Baca juga: Mondo Gascaro rilis album soundtrack film "Kucumbu Tubuh Indahku"

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar