Pemerintah diminta siapkan tenaga kerja berorientasi kecerdasan buatan

Pemerintah diminta siapkan tenaga kerja berorientasi kecerdasan buatan

Ilustrasi - Pencari kerja memadati bursa kerja. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

sudah saatnya untuk masuk ke dalam masa-masa dimana mahasiswa harus didorong untuk berpikir kreatif dan bebas
Jakarta (ANTARA) - Ekonom Hisar sirait menyarankan agar pemerintah menyiapkan tenaga kerja muda dengan konsep pendidikan berorientasi pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

"Terdapat beberapa hal yang harus kita perhatikan, di mana bagi para pemuda yang saat ini menempuh pendidikan menengah dan tinggi harus kita siapkan sesuatu yang saya sebut konsep pendidikan menengah, atas dan tinggi yang berorientasi pada kemampuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence," ujar Hisar yang juga menjabat sebagai Rektor Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie kepada Antara di Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan bahwa kalau merujuk kembali pada apa yang disampaikan oleh bapak Presiden Joko Widodo visi Indonesia 2045, para pemuda dan tenaga kerja yang berada pada tahun tersebut adalah sosok yang memasuki usia sangat produktif antara 35 sampai dengan 45 tahun. Artinya para pemuda yang saat ini dalam fase menempuh pendidikan SMP, SMA dan perguruan tinggi.

Baca juga: Inovasi fashion Ria Miranda dengan teknologi kecerdasan buatan

Ekonom sekaligus akademisi ini sepakat dengan apa yang disampaikan Mendikbud Nadiem Makarim bahwa mulai dari pendidikan SMP para pelajar diperkenalkan dengan pola berpikir algoritma atau bagaimana cara berpikir untuk membuat coding, karena pada gilirannya para pelajar tersebut akan menghadapi era ke arah tersebut.

Sedangkan bagi para pelajar SMA, mereka harus sudah mulai dipastikan untuk bisa masuk ke dalam konsep-konsep membangun yang namanya aplikasi-aplikasi sederhana, seperti gim atau animasi sederhana.

Generasi pelajar SMP dan SMA sekarang harus melek dan akrab dengan teknologi, dan pemerintah perlu membangun konsep pendidikan menengah pertama dan atas yang tidak lagi berorientasi kepada hafalan atau kemampuan untuk menjelaskan sesuatu, namun untuk bisa memikirkan hal-hal baru.

"Untuk yang pendidikan tinggi, harapan kita bersama adalah untuk bagaimana pendidikan tinggi kita saat ini yang sudah terlalu lama bertahan dengan konsep-konsep konvensional sudah saatnya untuk masuk ke dalam masa-masa dimana mahasiswa harus didorong untuk berpikir kreatif dan bebas," kata Hisar Sirait.

Pendidikan tinggi harus memberikan ruang yang sangat besar kepada para mahasiswa saat ini untuk masuk ke dalam, apa yang ekonom sebut sebagai ruang-ruang cipta, ruang-ruang di mana mahasiswa bisa memanfaatkan potensinya untuk menghasilkan suatu pola pikir yang inovatif serta kreatif.

Baca juga: BPPT dan BMKG kerja sama pengembangan TMC berbasis kecerdasan buatan

Sementara bagi tenaga kerja muda, mereka diharapkan harus berani untuk keluar dari zona nyaman, berpikir lebih kreatif dan inovatif. Dengan demikian untuk ke depannya perlu memprioritaskan pendidikan vokasi.

"Jadi Mendikbud Nadiem Makarim perlu memberdayakan pendidikan-pendidikan vokasi untuk bisa menghasilkan tenaga kerja-tenaga kerja muda yang siap untuk bekerja dan memahami dunia kerja yang terkait dengan teknologi," ujar Hisar sirait.

Konsep pendidikan STM lama seperti STM bangunan atau listrik sudah tidak diperlukan lagi, dan mestinya konsep pendidikan sekolah vokasi atau kejuruan diharapkan bisa mengarah pada konsep yang lebih maju dari hal tersebut.

"Dengan demikian 25 tahun lagi yakni tepatnya pada tahun 2045, kita sudah akan memiliki para pemuda dan tenaga kerja muda produktif yang memiliki daya cipta hebat serta mampu bersaing dengan generasi-generasi muda yang saat ini berada di China, Korea Selatan, Jepang atau bahkan di Vietnam serta Asia Tenggara," katanya.

Baca juga: Martina Berto manfaatkan kecerdasan buatan untuk pasarkan produk

Baca juga: Kemendikbud seriusi pemanfaatan kecerdasan buatan majukan pendidikan

Pewarta: Aji Cakti
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ekonom: Tim Ekonomi Kabinet Kerja Jilid II harus diisi profesional

Komentar