Bincang-bincang bersama Yosep Anggi Noen di Festival Film Tokyo 2019

Oleh Nanien Yuniar

Bincang-bincang bersama Yosep Anggi Noen di Festival Film Tokyo 2019

Sutradara Yosep Anggi Noen usai penayangan film "The Science of Fictions" di Tokyo International Film Festival 2019, Jumat (1/11). (ANTARA/Nanien Yuniar)

Tokyo (ANTARA) - Untuk pertama kalinya, sutradara Yosep Anggi Noen mempertontonkan karyanya di depan khalayak Jepang.

Dalam Festival Film Internasional Tokyo (Tokyo International Film Festival), karya terbaru Anggi berjudul "The Science of Fictions" atau "Hiruk Pikuk Si-Alkisah" masuk dalam program "World Focus".

Usai penayangan di Tokyo, Jumat (1/11), Programming Director Festival Film Tokyo Kenji Ishizaka mengatakan awalnya "The Science of Fictions" akan masuk ke dalam program "Crosscut Asia", namun dipindahkan ke bagian "World Focus" karena film tersebut banyak meraih penghargaan, salah satunya Special Mention Award di Locarno International Film Festival.

"World Focus" menampilkan karya-karya menarik peraih penghargaan di festival film internasional dan belum pernah ditayangkan di Jepang.

Film yang berkisah tentang Siman, seorang pemuda di pelosok Yogyakarta yang melihat pengambilan gambar pendaratan manusia di bulan oleh kru asing di Pantai Parangtritis, Yogyakarta pada tahun 60-an.

Dia ditangkap dan dipotong lidahnya. Setelah itu, Siman menjalani hidupnya dengan bergerak lambat anti-gravitasi sebagaimana astronot di ruang angkasa. Penduduk desa menganggap Siman gila karena Siman membangun bangunan mirip roket di belakang rumahnya.


Baca juga: Tiga film Indonesia diputar di Festival Film Tokyo 2019

Baca juga: Film "The Science of Fictions" karya Yosep Anggi Noen tayang di Busan

 
Sutradara Yosep Anggi Noen (kiri) dan produser Yulia Evina Bhara usai penayangan film "The Science of Fictions" di Tokyo International Film Festival 2019, Jumat (1/11). (ANTARA/Nanien Yuniar)


Tanya (T): Sudah berapa festival yang diikuti?
Anggi (A): Jadi "The Science of Fictions" ini awalnya ditayangkan di Locarno, kemudian sampai Desember ini ada sekitar 15 sampai 20 festival lah yang menayangkan "The Science of Fictions". Ini di Jepang mungkin festival ke-13 atau ke-14.

T: Setelah ini?
J: Setelah ini ada satu festival di Los Angeles namanya AFI Fest, American Film Institute Festival, kemudian di minggu yang sama di Los Angeles akan ditayangkan di Houston kemudian di San Diego Action Film Festival, kemudian ada di Taipei, lalu ada di Oslo, Norway, Singapore Film Festival, di Yogya, dan lain-lain.

T: Di judulnya ada "The Science of Fictions" dan "Hiruk Pikuk Si-Alkisah", mana yang akan dipakai di festival?
J: Di festival selalu judul internasional meskipun dicantumkan juga judul Indonesia-nya, cuma awalnya film ini benar-benar ditulis di satu bahasa yaitu bahasa Inggris. Judulnya juga muncul dalam bahasa Inggris, yaitu "The Science of Fictions". Nantinya di Indonesia kita akan lihat mana judul yang akan berkembang. Tapi yang jelas "The Science of Fictions" itu sangat easy...

Usai penayangan film, Anggi sempat menjelaskan alasannya memilih kata "Fictions", bukan cuma "Fiction" dalam judul. Anggi mengemukakan ada banyak fiksi yang hadir di film tersebut, sebuah kisah tentang persepsi zaman sekarang yang sulit dikenali, mana yang benar, mana yang salah.

T: Di film digambarkan ceritanya berbeda-beda tapi orangnya sama aja, bisa dijelaskan?
J: Betul, nanti kalau teman-teman di Indonesia menonton film ini akan mendapatkan pengalaman secara waktu. Pengalaman itu akan bergulir ya. Mulai dari awal cerita 60-an ketika seorang Siman melihat syuting pendaratan manusia di bulan, di Bantul syutingnya, kemudian setelah itu zaman akan berubah ke zaman sekarang di mana orang-orang mulai pakai handphone, naik mobil dan sebagainya.

Film-nya sendiri time span-nya panjang dari film itu, cuma kita juga akan menunjukkan film, sebagai sebuah moda cara bertutur, itu mampu untuk kita kelola waktunya. Satu-satunya medium seni untuk bertutur dan bisa 'nakal' dengan waktu, itu adalah film. Kita bisa membuat editing yang bolak-balik, slow motion, waktu yang berbeda dalam satu jam. Jadi itu sebenarnya yang konsep dari kenapa film ini, nanti akan lihat banyak warna, banyak jenis kamera.

Anggi memainkan perbedaan warna -ada adegan berwarna hingga hitam putih- hingga ukuran video dari standard seperti film masa kini sampai lebih kecil seperti film-film masa lampau. Teknik sinema seperti itu dipilih untuk bercerita, sekaligus memperlihatkan bagaimana kamera dan kebenaran melewati proses reproduksi sepanjang waktu. Penonton akan punya pengalaman sinema yang berbeda-beda.
 
Sutradara Yosep Anggi Noen usai penayangan film "The Science of Fictions" di Tokyo International Film Festival 2019, Jumat (1/11). (ANTARA/Nanien Yuniar)


Baca juga: Film "Alkisah si Hiruk Pikuk" nominasi di Festival film di Locarno

Baca juga: Film Indonesia sabet penghargaan di Jepang


T: Siman kenapa dibuat bisu, kenapa harus berpura-pura jadi astronot?
J: Film ini memang bercerita tentang seseorang yang tahu sebuah kebenaran tapi dia dibisukan oleh kekuatan yang lebih besar. Siman adalah orang yang seperti itu. Dia tahu ada sesuatu dalam sejarah hidup dia, sejarah komunitas, sejarah di masyarakat, tapi dia enggak bisa berbicara hal yang benar karena memang bisa jadi orang yang punya kebenaran, orang yang memiliki kebenaran itu dibungkam.

T: Proses mencari pendanaan butuh waktu lama. Apakah karena temanya terlalu berat atau pasarnya susah?
J: (Tertawa) Dalam waktu kurun tujuh tahun kita mengembangkan naskah dan mencari uang itu saya sempat membuat film "Istirahatlah Kata-Kata" di tengah itu. Kalau kenapa kemudian kenapa ini butuh waktu yang panjang, ya sesederhana uang terkumpul untuk film ini memang lama. Banyak mungkin pihak yang kurang bisa melihat film ini sebagai film yang misalnya mudah untuk ditonton.

Proposalnya mungkin proposal yang terlalu konseptual, misalnya kayak begitu. Tapi ketika filmnya jadi, orang jadi punya atensi. Oh ternyata film ini sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Memang konseptual, tapi cara tuturnya adalah cara tutur sehari-hari, biasa saja, tidak bombastis.

Lalu juga funding internasional itu bisa jadi memang melihat naskahnya dan membacanya, bisa jadi naskahnya tidak terlalu mudah untuk dibaca. Karena saya di naskah itu menulis kemudian ada flashback, balik lagi ke depan, ada sebuah hal yang ditunjukkan di film dan tidak seperti umumnya di sebuah film ditunjukkan sebab dan akibatnya.

Tapi kita beruntung akhirnya setelah beberapa lama orang-orang mulai percaya dengan proposalnya, dan kami dapat funding dari Belanda, juga Malaysia, dapat dukungan dari Indonesia dan dukungan-dukungan yang tidak semata uang, tapi support untuk syuting, peralatan, dan sebagainya.

Selama tujuh tahun lebih menarik bagi saya dalam mengembangkan film ini. Awalnya enam tahun lalu saya sama sekali tidak menduga bahwa social media dan kamera di handphone itu bisa sedemikian bagusnya. Sekarang semua orang bisa memegang handphone. Dulu kamera itu hanya dimiliki orang-orang kuat atau elit, berat, besar. Sekarang kamera ada di tangan semua orang.

Baca juga: Bincang-bincang bersama Oka Antara di Festival Film Tokyo 2019

Baca juga: Bincang-bincang film "Foxtrot Six" di Festival Film Tokyo 2019


T: Bagaimana dengan reaksi penonton Jepang barusan?
J: Saya sangat senang ya, ini kan cerita yang lokal sekali, tempat di Indonesia, terpencil, tapi kemudian karena kita juga bicara hal yang universal, pendaratam manusia di bulan, maka cerita ini jadi cerita semua orang. Saya senang karena saya membuat cerita yang di sekitar rumah saya saja tapi ditonton oleh orang yang sangat jauh dari rumah saya, itu mereka menikmati.

T: Dari Parangtritis ke astronot, idenya bagaimana?
J: Kalau teman-teman ke Parangtritis dan melihat gumuk pasir Parangkusumo, teman-teman akan melihat tempat yang sangat luas, kalau malam hari datang ke situ dari samping ada lampu-lampu, itu tampak seperti permukaan bulan. Tempat itu dipakai untuk macam-macam hal, ada pre-wedding, manasik haji, shalat ied, kemudian tempat itu banyak sekali kegiatan, ada persembahan kepada laut di selasa kliwon dan jumat kliwon. Kemudian ada satu tempat karaoke-karaoke, red district, sangat menarik tempat itu. Itu yang membuat saya berpikir, tempat bisa menjadikan seseorang punya banyak cerita dan kompleks secara karakter.

T: Pemilihan pemeran Siman?
J: Mas Gunawan Maryanto itu guruku juga. Sejak dulu dia aktif di teater, dan film ini kan tentang tubuh dan kesadaran tubuh, bergerak. Saya rasa tidak ada orang yang lebih tepat selain Gunawan Maryanto. Menurutku, Gunawan bisa membahasakan sebuah situasi yang rumit ke dalam gerak tubuh dia secara sederhana. Tidak ada satu kata yang muncul dari mulut pemain utama ini, jadi bayangkan kalian nonton film nanti pemain utamanya tidak ngomong sama sekali, tapi bergerak untuk "bicara".

Baca juga: "A Beloved Wife", dinamika hubungan suami istri yang tak selalu manis

Baca juga: Cerita Naoki Kobayashi "Exile" berperan di "Earthquake Bird"


T: Jadi di sini penonton diajak menebak-nebak mana realita mana yang bukan ya, karena ada satu bagian misalnya Siman bergerak seperti astronot, lambat, tapi ada kalanya dia juga bergerak cepat di luar rutinitas, seperti itu...
J: Itu juga sebenarnya semacam kenikmatan kita melihat film, kita ada tersesat di sebuah cerita, tapi kita menyadari mana cerita yang utama, mana kenakalan film sebagai medium. Jadi akan sangat menarik untuk ditonton. Dan ini berbicara juga tentang kita, tentang sejarah kita, hari ini, handphone yang bisa dipegang siapapun kemudian dia bisa mereproduksi realitas, bicara tentang kebenaran, memotret sesuatu, tapi bisa juga bicara tentang kebohongan, atau mereproduksi kebohongan.

T: Ini juga bicara tentang pendaratan di bulan. Apa Anggi sebenarnya enggak percaya dengan pendaratan di bulan bertahun-tahun lalu, bahwa itu sebuah rekayasa?
J: Rasanya sebenarnya cerita tentang pendaratan manusia di bulan itu ada dan besar sekali di dunia. Bahkan berita sebesar itu dikontekstualisasi terus menerus oleh orang-orang.

Misalnya, di Indonesia, ada rumor mengatakan astronot Neil Armstrong itu masuk Islam. Kenapa? karena dia mendengar suara azan saat di bulan. Kemudian waktu saya bertemu orang-orang dari Afrika, mereka juga berpikir pendaratan di bulan itu dikontekstualisasikan terus-menerus.

Tahun 1969 ketika Presiden (Richard) Nixon datang ke Jakarta, dia ketemu sama Soeharto, dia bilang "nanti saya kasih kamu a piece of moon rock, sekembalinya astronot saya datang dari bulan".

Artinya, itu kan bukan semata-mata seseorang yang mendarat di bulan, tapi what after mendarat di bulan kan. Yaitu, reproduksi atas kemegahan, keagungan, kekuatan besar orang-orang yang pernah sampai ke bulan. Jadi, ini menarik sekali, dan itu dulu hanya bisa dilakukan oleh orang atau negara yang kuat. Sekarang, kamu pakai handphone ini saja bisa mereproduksi apapun kebenaran yang ingin kamu paksakan atau ingin orang-orang tahu, zaman ini luar biasa.

“The Science of Fictions” adalah produksi Angka Fortuna Sinema, KawanKawan Media, dan Limaenam Films dan ko-produksi dengan Andolfi (Perancis), Astro Shaw (Malaysia), GoStudio (Indonesia), dan Focused Equipment (Indonesia).

Film itu melibatkan sederet aktor seperti Gunawan Maryanto yang aktif di teater, Yudi Ahmad Tajudin, Lukman Sardi, Ecky Lamoh, Alex Suhendra, Marissa Anita, Rusini, dan Asmara Abigail. “The Science of Fictions” akan tayang di Indonesia pada 2020.


Baca juga: Film pemegang rekor Guinness awali Festival Film Tokyo 2019

Baca juga: Oka Antara dan Joko Anwar di karpet merah Festival Film Tokyo 2019
 

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar