Bandung (ANTARA News) - Observatorium Boscha membentuk enam tim astronom yang akan disebar ke enam titik lokasi (kota) untuk memantau kemunculan hilal (bulan) sebagai tanda awal bulan Suci Ramadhan 1429 H. "Tim itu akan melakukan pantauan hilal pada 30-31 Agustus 2008 mendatang di enam titik, hasilnya akan dilaporkan untuk data menentukan awal Puasa yang akan ditentukan lewat Sidang Isbat," kata Kepala Observatorium Boscha Lembang, Dr Taufik Hidayat, di Bandung, Rabu. Tim dari Observatorium Boscha yang masing-masing terdiri atas dua astronom dan satu pakar informasi teknologi (IT) itu akan disebar ke enam titik, yakni Makasar, Kupang, Tanjung Kodok Jatim, Semarang, Boscha Lembang dan Banda Aceh. Keterlibatan Observatorium Boscha dalam membantu penetapan awal Ramadhan dan Lebaran itu merupakan yang kedua kalinya. Hasil pengamatan tim Observatorium Boscha yang dilengkapi dengan peralatan canggih dan IT itu akan melengkapi data yang akan dipakai dalam Sidang Isbat. "Hasil rekaman pengamatan hilal tim kami akan langsung direkam menggunakan kamera dan menjadi bukti kemunculan hilal sehingga fakta dan datanya valid," kata Taufik Hidayat. Kegiatan pemantauan itu, kata Taufik merupakan kerjasama antara Observatorium Boscha, Departemen Kominfo serta Departemen Agama. Ia menyebutkan, dengan peralatan canggih yang ada, hilal bisa dilihat secara detail. Hasil pengamatan hilal akan langsung dilaporkan secara online melalui perangkat IT dari enam titik pemantauan. "Penetapan enam titik pengamatan hilal itu untuk mengoptimalkan pemantauan, lebih banyak yang melakukan pengamatan maka makin besar peluang untuk melihat kemunculan hilal sekaligus mengatasi kendala cuaca," kata Taufik. Lebih lanjut, Kepala Observatorium Boscha menyebutkan, fenomena kemunculan hilal pada awal Ramadhan tahun ini unik karena iluminasinya hanya 0,5 persen. "Sangat kecil sekali kemungkinannya hilal bisa terlihat karena iluminasinya sangat kecil, butuh teropong yang dilengkapi kamera berkemampuan khusus, alatnya sudah kita siapkan," kata Taufik Hidayat. Taufik menyebutkan, pemantauan hilal itu cukup rumit karena dilakukan di ufuk sehingga iluminasinya dipastikan dibawah satu persen. "Hasil pengamanan kami hanya memasok data, keputusan awal Ramadhan tetap pada Sidang Isbat," kata Taufik Hidayat menambahkan.(*)

Editor: Heru Purwanto
Copyright © ANTARA 2008