Realisasi investasi di NTB mencapai Rp7,5 triliun

Realisasi investasi di NTB mencapai Rp7,5 triliun

Beberapa pengunjung melihat berbagai jenis bunga anggrek yang dijual Lombok Orchid, Kota Mataram, NTB, salah satu pelaku UMKM yang berani berinvetasi di sektor florikultura karena memiliki pasar yang potensial seiring berkembangnya industri pariwisata dan properti. (ANTARA/Awaludin)

nampaknya dampak dari pascagempa bumi 2018 terjadi penjadwalan ulang investasi oleh para investor
Mataram (ANTARA) - Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Nusa Tenggara Barat mencatat realisasi investasi mencapai Rp7,5 triliun hingga triwulan III-2019, sementara target yang dibebankan pemerintah pusat sebesar Rp14 triliun.

"Realisasi investasi baru setengahnya tercapai, nampaknya dampak dari pascagempa bumi 2018 terjadi penjadwalan ulang investasi oleh para investor. Selain itu, ada siklus lima tahunan, tahun politik," kata Kepala DPMPTSP NTB, Lalu Gita Ariadi di Mataram, Minggu.

Meskipun baru mencapai setengah dari target, Gita mengaku tetap optimis target realisasi investasi sebesar Rp14 triliun akan tercapai hingga akhir 2019.

Baca juga: Menko Airlangga pastikan pembenahan iklim investasi terus dilakukan

"Kami juga optimis investasi akan terbangun lebih baik pada 2020. Untuk target pada 2019, sebelum akhir tahun kita lihat. Mudah-mudahan progres pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, dan pembangunan smelter akan memacu pertumbuhan investasi," ujarnya.

Ia menyebutkan sektor yang paling dominan penyumbang realisasi investasi hingga triwulan III-2019 adalah sektor pertambangan, industri pariwisata (hotel dan restoran), serta sektor perhubungan.

Sementara sektor pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan masih relatif kecil, meskipun NTB merupakan salah satu provinsi penghasil komoditas pertanian tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan serta perikanan.

Selama ini, kata dia, beberapa provinsi di Indonesia mengambil berbagai komoditas hasil pertanian dari NTB sebagai bahan baku industri olahan. Salah satunya Provinsi Jawa Timur, yang mendatangkan jagung dan rumput laut dari NTB.

Baca juga: Peneliti sebut kebijakan pro-investasi bakal tekan potensi resesi

"Yang ingin kita genjot terus adalah pertanian. Memang sektor tersebut menjadi andalan, tetapi sebagai industri olahan belum begitu banyak yang tertarik. Artinya NTB belum jadi daerah industri pertanian, hanya sebagai daerah produksi," ucap Gita.

Menurut dia, potensi sumber sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan NTB sangat luar biasa. Oleh sebab itu, pihaknya terus mempromosikan potensi investasi tersebut agar investor tertarik menanamkan modalnya di NTB. Promosi dilakukan di dalam dan luar negeri.

Salah satu yang selalu dipromosikan adalah potensi perikanan di kawasan perairan Teluk Awang, Kabupaten Lombok Tengah, dan Teluk Saleh, Pulau Sumbawa. Selain itu, potensi industri garam yang tersebar di Pulau Lombok, dan Pulau Sumbawa.

DPMPTSP NTB, kata dia, juga mendorong para investor lokal untuk berani berinvestasi di sektor komoditas yang memiliki pasar dan nilai ekonomi yang bagus, meskipun risikonya relatif berat.

"Kami sangat terbuka kepada investor dari mana pun dan justru yang kami harapkan adalah investor dalam negeri. Jangan sampai investor luar ramai-ramai datang dan berhasil baru kemudian pengusaha lokal masuk," kata Gita.

Baca juga: Perusahaan investasi bodong bertambah signifikan, capai 263 entitas

 

Pewarta: Awaludin
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar