Mentan akan bentuk unit khusus tanggulangi virus Demam Babi Afrika

Mentan akan bentuk unit khusus tanggulangi virus Demam Babi Afrika

Petugas Balai Veteriner Medan melakukan uji coba laboratorium sempel bangkai babi di kantor Balai Veteriner Medan Jalan Gatot Subroto, Medan. ANTARA/Nur Aprilliana Br Sitorus/aa.

Sesuai apa yang saya dapatkan dari pendekatan akademis dan sumber-sumber terpercaya lainnya, ternyata penyakit tersebut tidak menular kepada manusia
Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo akan membentuk desk atau unit khusus mulai dari tingkat nasional sampai dengan tingkat peternakan dalam rangka menanggulangi wabah Demam Babi Afrika atau African Swine Fever.

"Saya sementara ini membentuk desk langsung, baik di tingkat nasional, provinsi, maupun kabupaten sampai dengan desk di tingkat peternakannya seperti apa," ujar Mentan Syahrul Yasin Limpo di Jakarta, Jumat.

Dia menjelaskan bahwa sekarang ini ada beberapa hal yang perlu dilakukan, namun yang paling penting melakukan isolasi, bahkan pengendalian.

"Itu tidak boleh dibiarkan, dan pada hari ini saya menyurati langsung kepada para gubernur dan bupati agar betul-betul melakukan isolasi. Balai karantina akan menjalankan hal tersebut secara ketat," kata Mentan Syahrul Yasin Limpo.

Mentan juga mengimbau agar masyarakat tidak mudah mempercayai berita-berita hoaks, seperti African Swine Fever ini berubah menjadi cacar babi yang bisa menjangkiti atau menular ke manusia.

"Sesuai apa yang saya dapatkan dari pendekatan akademis dan sumber-sumber terpercaya lainnya, ternyata penyakit tersebut tidak menular kepada manusia," tegas Mentan Syahrul Yasin Limpo.

Sebelumnya ribuan ternak babi di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) yang mendadak mati diduga tidak hanya terjangkit virus Hog Cholera atau Kolera Babi, melainkan juga terindikasi virus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika.

Hal itu berdasarkan hasil uji laboratorium sampel bangkai babi di Medan yang dilakukan Balai Veteriner Medan.

Kepala Balai Veteriner Medan Agustia MP mengatakan bahwa untuk membuktikan adanya Demam Babi Afrika, harus dilakukan uji lab berkali-kali. Karena, katanya, virus tersebut belum pernah ada di Indonesia dan belum ada obatnya.

Virus tersebut memiliki serangan yang cepat dan sistemik. Babi yang diserang tidak kelihatan sakit namun bisa tiba-tiba mati. Virus ASF ini masuk ke dalam tubuh dan mematikan organ-organ.

Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara mencatat ada 11 Kabupaten/Kota yang terkena wabah virus Hog Cholera yaitu Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Karo, Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Samosir. Dari 11 kabupaten/kota tersebut sebanyak 4.682 ekor babi dilaporkan mati akibat virus ini.

Baca juga: Penumpang pesawat Dili-Kupang dilarang bawa komoditi berbahan babi

Pewarta: Aji Cakti
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mentan lepas ekspor pertanian Jatim senilai Rp805,79 M

Komentar