Moderasi beragama penting untuk membangun kebhinekaan

Moderasi beragama penting untuk membangun kebhinekaan

Menteri Agama (Menag) RI Fachrul Razi saat memberikan paparan pada kegiatan orasi ilmiah peneliti Balitbang Diklat Kemenag RI di Jakarta, Selasa (19/11/2019). (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Agama (Menag) RI Fachrul Razi mengatakan moderasi beragama penting untuk terus dikembangkan masyarakat untuk membangun kebhinekaan yang ada di Indonesia.


"Saya kira dalam situasi kita sekarang sangat penting karena bangsa kita ini penuh kebhinekaan," kata dia pada kegiatan orasi ilmiah peneliti Balitbang Diklat Kemenag RI di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Menag: moderasi beragama masuk RPJMN

Facrul menilai moderasi penting untuk terus dikembangkan karena jika tidak bisa menimbulkan masalah di kemudian hari. Karena, pada dasarnya moderasi beragama adalah kukuh pada ajaran masing-masing tapi tetap penuh toleransi.


Pemerintah melalui Kemenag saat ini sedang mengembangkan dan memperkuat moderasi beragama. Apalagi, pada akhir masa jabatan Menteri Agama sebelumnya telah diluncurkan buku moderasi beragama.


Mengutip orasi dari Prof Muhammad Adlin Sila mengatakan moderasi beragama merupakan upaya menghadirkan jalan tengah atas dua kelompok ekstrem antara liberalisasi dan Konservatisme dalam memahami agama.


"Tujuannya tak lain untuk menghadirkan keharmonisan di dalam kehidupan kita sebagai sesama anak bangsa," ujar dia.


Pada orasinya, Muhammad Adlin menekankan juga untuk mewaspadai munculnya kelompok ragam keagamaan yang eksklusif dan intoleran yang sering mengklaim bahwa pemahamannya adalah paling baik sedangkan yang lainnya tidak atau sesat.


Baca juga: Akademisi: Moderasi beragama basis bangun kerukunan antaragama

Sementara itu, salah seorang profesor riset yang dikukuhkan Prof Muhammad Adlin Sila mengatakan secara faktual masyarakat Indonesia saat ini memiliki sikap keberagaman yang semakin kuat.


Hal itu ditandai oleh kecenderungan untuk menghadirkan agama tidak hanya simbol-simbolnya tapi juga ajarannya dalam kehidupan publik.


"Ternyata gejala-gejala ini tidak hanya umat Islam saja tetapi juga umat beragama lainnya," ujar dia.


Ekspresi-ekspresi keagamaan di ruang publik secara bebas terutama dari umat Islam ini sudah terlihat pada awal era reformasi.

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menag, pemimpin harus meneladani sifat rasul

Komentar