IPB kembangkan cara tanam berbasis teknologi mini plant factory

IPB kembangkan cara tanam berbasis teknologi mini plant factory

Rektor IPB Arif Satria (batik coklat) mendengar penjelasan dari Kepala Penelitian Mini Plant Factory Selamet Widodo (kiri), di dalam Mini Plant Factory, Station Lapang Fateta IPB, Leuwi Kopo, Dramaga, Bogor, Senin (25/11/2019). ANTARA/Riza Harahap/am.

ini baru percobaan berskala kecil
Bogor (ANTARA) - IPB University merintis pengembangan cara tanam berbasis teknologi 4.0 melalui Smart and Precision Agriculture Research Station (SPARS) Mini Plant Factory di Station Lapang Fateta IPB di Leuwi Kopo, Dramaga, Bogor.

"Ini baru percobaan berskala kecil, nanti kalau sudah berhasil akan dikembangkan di lapangan yang lebih besar lagi," kata Rektor IPB, Arif Satria, saat melakukan "soft launching" Smart and Precision Agriculture Research Station (SPARS) Mini Plant Factory di Station Lapang Fateta Kopo, Dramaga, Bogor, Senin.

"Soft launching" tersebut ditandai dengan panen tanaman selada dan rumput gandum yang ditanam di mini plant factory. Bahkan, tanaman rumput gandum itu langsung diblender dan dicampur dengan sedikit air mineral menjadi minuman jus.

Menurut Arif Satria, IPB University mengembangkan tanaman dengan teknologi mini plant factory, karena IPB memiliki ahli-ahli green house. "Kami melihat teknologi mini plant factory ini dikembangkan di Jepang, karena negara tersebut, keterbatasan lahan," katanya.

Baca juga: HA IPB: perubahan teknologi digital perlu disikapi secara tepat
Baca juga: Pameran Aquatic Asia KKP persiapkan industri budidaya 4.0


Sementara itu, Kepala Penelitian Mini Plant Factory, Selamet Widodo, mengatakan, penelitian cara bertanam dengan teknologi mini plant factory ini, ada tiga aspek pendekatan.

Pertama, IPB mengembangkan teknologi indoor factory, yakni menanam tanaman dengan beberapa kontrol sekaligus, baik temperatur, cahaya, penggunaan media, maupun pH.

Kedua, mini plant factory ini adalah project kebersamaan dan lintas divisi di IPB. "Saat ini baru dikembangkan oleh Fateta," katanya.

Ketiga, penelitian mini plant factory ini menggunakan teknologi 4.0, meskipun lokasinya kecil, tapi bermakna besar. "Harapannya dapat seperti mini plant factory di Jepang," katanya.

Baca juga: Teknologi 4.0 dalam berkebun digunakan petani di Situbondo
Baca juga: Kementan ingatkan petani milenial kuasai teknologi pertanian 4.0
Baca juga: Rektor IPB kembangkan Pertanian 4.0 sepulang dari Tiongkok

 

Pewarta: Riza Harahap
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar