Legislatif dorong Indonesia lebih ambisius lakukan diplomasi iklim

Legislatif dorong Indonesia lebih ambisius lakukan diplomasi iklim

French President Emmanuel Macron and Chinese President Xi Jinping applaud as President of Airbus Commercial Aircraft, Guillaume Faury and Chairman of China Aviation Supplies Co. (CASC), Jia Baojun, shake hands during an agreement signing ceremony at the Elysee Palace in Paris, France March 25, 2019. Yoan Valat/Pool via REUTERS TPX IMAGES OF THE DAY (REUTERS/POOL)

Balikpapan (ANTARA) - Wakil Ketua DPR RI yang sekaligus Ketua Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar mendorong Indonesia selaku pemilik hutan yang luas di dunia untuk lebih ambisius dalam melakukan diplomasi iklim.

Muhaimin Iskandar atau akrab disapa Cak Imin dalam keterangan tertulisnya diterima di Balikpapan, Selasa, mengatakan Indonesia di Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim PBB harus lebih berambisi lagi, karena posisi Indonesia sangat strategis dalam upaya pengendalian perubahan iklim.

“Hutan Indonesia yang begitu luas harus bisa menjadi kekuatan kita dalam berdiplomasi dengan negara-negara lain khususnya negara maju dalam upaya pengendalian perubahan iklim,” ujar Cak Imin yang mewakili legislatif menghadiri Conference of Parties (COP) 25 UNFCCC di Madrid, Spanyol.

Baca juga: Muhaimin jadi salah satu pembicara utama di UNCCC COP25 di Madrid
Baca juga: PBB: Emisi gas rumah kaca capai rekor baru, dapat bawa efek merusak


Dengan pertemuan COP25, ada kewajiban semua pihak untuk membuat aksi nyata. Mau tidak mau semua harus terlibat mengurangi pemanasan global. Politisi PKB itu meminta pemerintah untuk lebih banyak mendorong keterlibatan politikus, tokoh-tokoh berpengaruh dan tokoh organisasi keagamaan, termasuk di DPR dalam mengawal dan membantu upaya Indonesia menanggulangi perubahan iklim.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres saat pembukaan COP25 di Madrid mengatakan PBB menargetkan carbon neutral di 2050 dan mengharapkan bahan bakar fosil tetap di tanah, tidak digunakan lagi, seiring desakan kaum muda dunia untuk menyatakan climate emergency.

Ia mengatakan tiga laporan Panel Antarapemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) terakhir telah mengkonfirmasi bahwa manusia telah merusak tempat hidupnya. Di beberapa kawasan regional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara masih terus dibangun, itu harus dihentikan atau upaya mengatasi perubahan iklim akan hancur.

Baca juga: Pertemuan Iklim akan berlangsung di Madrid pada Desember
Baca juga: COP25 berpindah dari Brazil hingga Spanyol


“Dari aktivitas agrikultur, energi ke industri, kita jauh dari sustainable path. Harus ada sebuah transformasi besar,” ujar Gutteres.

Jika cara hidup manusia tidak berubah maka akan mengorbankan kehidupan itu sendiri. Jika ingin berubah tidak bisa dilakukan oleh satu industri atau satu pemerintah saja, harus dilakukan oleh semua dengan berkolaborasi, memastikan keadilan iklim terpenuhi untuk semua.

Gutteres juga mengingatkan upaya membatasi peningkatan suhu Bumi dengan Paris Agreement yang disepakati di 2015 belum mampu mengubah keadaan jika target terpenuhi. Peningkatan suhu Bumi diperkirakan akan mencapai 3,5 hingga 3,9 derajat Celsius di akhir abad ini.

Itu alasan ia meminta setiap kepala negara mau meningkatkan ambisi dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di negaranya masing-masing pada September 2019 di New York pada pelaksanaan Global Climate Action Summit (GCAS).

Baca juga: Spanyol menawarkan diri untuk konferensi perubahan iklim COP25
Baca juga: COP25 penting karena Chile hendak dorong implementasi Paris Agreement


Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar