Dipamerkan prototipe pengelolaan sumber daya alam, ini bentuknya

Dipamerkan prototipe pengelolaan sumber daya alam, ini bentuknya

Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Djalil dalam acara perayaan kelulusan program BEKAL Pemimpin di Jakarta, Kamis. (ANTARA/Ade Irma Junida)

Paradigma pembangunan kita selama ini lebih banyak top down, dari atas ke bawah dan itu ternyata banyak kelemahannya
Jakarta (ANTARA) - Program Bersama Kelola Alam Adil Lestari (BEKAL) Pemimpin yang dilakukan United in Diversity memamerkan sembilan ide prototipe solusi pengembangan sumber daya alam berkelanjutan setelah mengikuti proses pembelajaran sejak Juli lalu.

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Sofyan Djalil dalam acara perayaan kelulusan program BEKAL Pemimpin di Jakarta, Kamis, menyambut inisiatif bottom-up tersebut sebagai upaya penyelesaian masalah di masyarakat.

"Ini inisiatif masyarakat dengan bottom up approach dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi di lapangan berdasarkan kearifan lokal dan dipimpin oleh anak-anak muda," katanya.

Sofyan mengatakan pendekatan bottom up (dari bawah ke atas) menjadi penting karena yang mengerti masalah di tingkat bawah adalah masyarakat lokal. Pendekatan dari bawah ke atas juga dinilai lebih baik karena juga ikut menyertakan kearifan lokal.

"Paradigma pembangunan kita selama ini lebih banyak top down, dari atas ke bawah dan itu ternyata banyak kelemahannya," kata Sofyan Djalil.

Meski baru prototipe, jika berhasil, Sofyan berharap pemerintah akan bisa membantu mengadopsi dan menyebarkan solusi masalah pengelolaan sumber daya alam ini.

CEO United In Diversity Indira P Baheramsyah menjelaskan program tersebut merupakan program pengembangan kapasitas dan sosial di mana lembaga nirlaba itu ingin mengembangkan kapasitas calon pemimpin, khususnya untuk bidang pengelolaan sumber daya alam.

"Jadi bagaimana kita membuat tiga sektor yaitu pemerintah, bisnis, dan masyarakat, bisa bekerja sama secara kolaboratif. Karena masalah itu bisa diselesaikan dengan kolaborasi," ujarnya.

Ada sembilan prototipe yang dikerjakan oleh 58 peserta Program BEKAL Pemimpin antara lain Namatota Fams yang fokus pada perubahan mental model menuju kampung mandiri dan berkearifan lokal di Kampong Namatota, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat; Ekspedisi Colombus yang fokus pada pemenuhan pasar bagi nelayan ikan tuna di Kampung Kendate, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua; juga Marine Futures yang fokus pada pengelolaan perikanan berkelanjutan, berkeadilan dan berkearifan lokal di Desa Tarupa, Kabupaten Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan.

Selanjutnya, Reforma Agraria untuk Indonesia Maju yang fokus pada pelepasan kawasan hutan di Desa Sempu untuk tanah objek reforma agraria; Investasi Hijau yang fokus pada mendorong pembiayaan sektor sawit berkelanjutan di Indonesia; juga Butta Lamberang Bersemi Kembali yang fokus pada pertanian alami dan penyelarasan rantai pasok pangan di Desa Padinging, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan.

Ada pula Zero Karhutla yang fokus pada penanganan kebakaran hutan dan lahan berbasis desa mandiri di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat; Kee Tebo yang fokus pada pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial untuk harmonisasi perikehidupan manusia, alam dan gajah di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi; dan Terpesona Bertujuan yang fokus pada pengelolaan ekoisata berbasis masyarakat di Desa Batu Putih, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Program BEKAL Pemimpin merupakan program penguatan kapasitas pemimpin dengan tujuan menumbuhkan dan mendukung generasi baru pengelola sumber daya alam di semua sektor masyarakat, melalui penguatan kapasitas kepemimpinan lokal dan nasional, serta mengakselerasi penciptaan kebijakan dan inovasi model-model pengelolaan alam yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berkearifan lokal yang digerakkan oleh alumni bersama dengan para pemangku kepentingan terkait.

Baca juga: Sofyan Djalil soroti lemahnya kelembagaan hambat pembangunan

Baca juga: Pengamat puji Jokowi berani lakukan reformasi agraria
 

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar