Kepala BNPB sematkan tiga Rompi Juragan Pertama

Kepala BNPB sematkan tiga Rompi Juragan Pertama

Kepala BNPB Letnan Jenderal Doni Monardo (tiga dari kiri) dan Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah (empat dari kiri) saat mengunjungi situs bencana Gua Ek Leuntie di Lhoong Kabupaten Aceh Besar, Sabtu (7/12/2019). (ANTARA/Khalis)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Doni Monardo
menyematkan Rompi Juragan Pertama kepada Kepala BMKG, Bupati Aceh Besar dan Wali Kota Banda Aceh atas pencanangan penggiat atau juru keluarga tangguh bencana.

"Penerima Rompi Juragan Pertama merepresentasikan pihak-pihak yang dapat berperan untuk mengantarkan keluarga di Indonesia menjadi keluarga tangguh bencana," kata dia melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Ahad.

Doni mengatakan membumikan keluarga tangguh bencana merupakan tugas bersama. Pemerintah, pakar, akademisi, dunia usaha, masyarakat dan media massa memiliki peran untuk mengakselerasi terwujudnya keluarga tangguh.

"Urusan bencana tidak bisa dibebankan pada satu unsur saja karena bencana adalah urusan bersama," ujarnya.

Baca juga: BNPB - BPBD Maluku sosialiasi mitigasi dan penanganan dampak gempa

Baca juga: Teknologi bantu mitigasi dan adaptasi perubahan iklim

Baca juga: BMKG: Pembahasan sesar aktif gempa sudah saatnya sering dilakukan


Ia menyampaikan program penanggulangan bencana juga akan menjadi bagian dari kurikulum baru di dunia pendidikan. Sehingga, penanggulangan bencana bisa paralel dari keluarga dengan para pelajar melalui materi pelajaran.

Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan Indonesia terus berproses dalam meningkatkan sistem peringatan dini gempa dan tsunami.

"Dahulu kita hanya mempunyai dua sensor di wilayah Aceh dan setelah belajar dari peristiwa tsunami Aceh, kita menambahnya menjadi 13 sensor," ujar dia.

Saat itu BMKG hanya memiliki dua sensor untuk mendeteksi gempa di enam juta kilometer wilayah Indonesia. Selain itu, para petugas juga masih menggunakan alat yang sederhana yaitu penggaris dan jangkar untuk membuat perhitungan titik episenter gempa.

"Betapa 'primitifnya' kita melindungi masyarakat," kata Dwikorita.

Namun, empat tahun setelah peristiwa tsunami Aceh 2004, BMKG berbenah untuk meningkatkan dan membangun sistem peringatan dini gempa dan tsunami. Kini sebanyak 170 sensor terpasang untuk memantau seluruh wilayah Indonesia.

Ia menambahkan masyarakat perlu memahami dan menyadari pentingnya membangun kesiapsiagaan bencana. Karena, bencana alam, misalnya gempa bumi tidak hanya dipicu oleh pergerakan lempeng tetapi juga pergerakan sesar di darat.

Dwikorita mencontohkan tsunami 'milineal' dengan karakter yang di luar perhitungan manusia. Belajar dari gempa dan tsunami Palu bahwa dalam dua menit tsunami telah tiba.*

Baca juga: Pakar: Belum ada perbaikan mitigasi struktural hadapi gempa

Baca juga: Ahli gempa AS minta potensi gempa harus disebarkan ke masyarakat

Baca juga: Akademisi: tingkatkan sosialisasi tentang mitigasi bencana

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BNPB sebut longsor di Kabupaten Bogor seperti lelehan es krim

Komentar