Dolar melemah setelah kesepakatan perdagangan AS-China, pound melonjak

Dolar melemah setelah kesepakatan perdagangan AS-China, pound melonjak

Dolar mata uang Amerika Serikat. ANTARA/REUTERS/Thomas White/am.

Pasar dibanjiri banyak berita utama pagi ini dan ada yang saling bertentangan, tetapi secara keseluruhan kami percaya tarif akhir pekan ini mungkin akan ditunda atau dibatalkan, sehingga hasil akhirnya tidak terlalu mengejutkan
New York (ANTARA) - Kurs dolar AS melemah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena berita awal tentang kesepakatan perdagangan China-AS.

Juga didorong kemenangan pemilihan untuk Partai Konservatif Inggris yang mendukung Brexit. Keduanya tampaknya membersihkan ketidakpastian investasi global, merugikan permintaan safe-haven untuk greenback.

Amerika Serikat dan China mendinginkan perang dagang mereka, mengumumkan perjanjian "fase satu" yang mengurangi beberapa tarif AS sebagai imbalan atas peningkatan pembelian produk pertanian Amerika dan barang-barang lainnya oleh China.

Amerika Serikat akan menangguhkan tarif barang-barang China karena mulai berlaku pada Minggu (15/12/2019), dan mengurangi tarif yang lain, kata para pejabat. Kesepakatan diharapkan ditandatangani minggu pertama Januari di Washington oleh negosiator utama.

Kesepakatan yang telah lama ditunggu-tunggu itu bisa menurunkan ketegangan antara Amerika Serikat dan China dan memberikan bantuan kepada para investor, yang telah dihantam selama berbulan-bulan oleh kekhawatiran bahwa perang dagang yang berkembang penuh akan menekan pertumbuhan ekonomi global.

Baca juga: Emas berjangka naik tipis ditopang pelemahan dolar AS

"Pasar dibanjiri banyak berita utama pagi ini dan ada yang saling bertentangan, tetapi secara keseluruhan kami percaya tarif akhir pekan ini mungkin akan ditunda atau dibatalkan, sehingga hasil akhirnya tidak terlalu mengejutkan," kata John Doyle, wakil presiden untuk transaksi dan perdagangan di Tempus Inc di Washington.

China setuju untuk bertujuan membeli 50 miliar dolar AS produk-produk pertanian setahun, kata Perwakilan Dagang Amerika Serikat Robert Lighthizer kepada wartawan di Gedung Putih, Jumat (13/12/2019)

Ditanya secara khusus tentang angka 50 miliar dolar AS, para pejabat di Beijing mengatakan bahwa rincian tentang nilai akan diungkapkan kemudian.

Berkurangnya ketidakpastian tentang kesepakatan perdagangan yang berlarut-larut membuat investor bergegas ke mata uang berisiko, kata analis.

"Beberapa orang telah dibuat marah di masa lalu karena percaya ada kemajuan nyata, hanya untuk kecewa," kata Doyle dari Tempus Inc.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,18 persen menjadi 97,22, setelah tergelincir ke serendah 96,719.

Selera terhadap mata uang berisiko yang sensitif terhadap perdagangan, seperti dolar Australia, tetap rendah. Aussie turun 0,59 persen terhadap dolar AS.

Dolar hampir datar terhadap yen Jepang -- yang cenderung menarik investor selama masa-masa tekanan geopolitik atau finansial, karena Jepang adalah negara kreditor terbesar di dunia.

Baca juga: Yen melemah, dolar diperdagangkan di paruh tengah 109 yen

Meskipun yuan di luar negeri pada awalnya didorong oleh harapan kesepakatan perdagangan, namun turun sekitar 0,9 persen terhadap dolar.

Sterling mendapat dukungan dengan baik ketika investor bergegas membatalkan taruhan tentang pound yang lebih lemah, setelah kemenangan pemilihan yang gemilang untuk Partai Konservatif Perdana Menteri Boris Johnson.

Kemenangan Johnson akan memungkinkan dia untuk mengakhiri tiga tahun kelumpuhan politik dan membawa Inggris keluar dari Uni Eropa secara tertib dalam hitungan minggu.

Pound naik 1,31 persen terhadap greenback menjadi 1,3335 dolar AS.

Baca juga: Rupiah akhir pekan menguat seiring kesepakatan dagang AS-China
 

Pewarta: Apep Suhendar
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menguatnya kurs dolar tak pengaruhi daya beli masyarakat

Komentar