saat ini NTT masih bergantung pada impor kebutuhan pokok, seperti beras, telur ayam, ayam ras dan beberapa kebutuhan lainnya yang memang tak dimiliki oleh NTT.
Kupang (ANTARA) - Kantor Bank Indonesia Perwakilan Nusa Tenggara Timur menyebutkan bahwa selama periode Januari hingga November 2019 pertumbuhan ekonomi NTT relatif stabil.

"Hal ini karena memang didukung oleh terkendalinya inflasi sepanjang 2019, serta kinerja investasi yang terus terjaga yang didorong oleh pembangunan infrastruktur serta investasi swasta terutama di bidang kelistrikan, perkebunan dan pariwisata," kata Kepala Perwakilan BI NTT I Nyoman Ariawan Atmaja di Kupang, Selasa.

Pemaparan itu disampaikan di depan Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi serta sejumlah Forkompimda dan kepala bank di NTT pada pertemuan tahunan Bank Indonesia 2019 dengan tema "Sinergi, Transformasi, Inovasi menuju Indonesia maju di kantor BI perwakilan NTT.

Ia menyatakan bahwa hingga saat ini pertumbuhan ekonomi di NTT berada pada kisaran 5,0 persen year on year (yoy). Dan pertumbuhan ekonomi ini diperkirakan stabil pada kisaran yang sama bahkan bisa mencapai 5,4 persen (yoy).

Baca juga: ADB proyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen pada 2020

"Jika dibandingkan dengan 2018 pertumbuhan ekonomi NTT 2019 lebih tinggi. Pada 2018 pertumbuhan ekonomi berada pada 5,13 persen (yoy)," ujar dia.

Namun walaupun pertumbuhan ekonomi NTT stabil, pihaknya meminta pemerintah NTT untuk mewaspadai masih tingginya impor antardaerah sebagai cerminan besarnya ketergantungan wilayah NTT terhadap provinsi lain.

Hal ini ujar dia berkontribusi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di provinsi berbasis kepulauan itu yang saat ini tingkat kemiskinan menurut data Badan Pusat Statistik berada pada urutan ketiga setelah Papua dan Papua Barat.

Ia mengatakan bahwa saat ini NTT masih bergantung pada impor kebutuhan pokok, seperti beras, telur ayam, ayam ras dan beberapa kebutuhan lainnya yang memang tak dimiliki oleh NTT.

Nilai ekspor NTT ke provinsi lain sendiri ujar dia hanya berada pada kisaran Rp3,9 triliun per tahun di antaranya sapi, ikan, rumput laut, garam, pariwisata, kopi, mete, kakao dan kelapa.

Sementara itu,  impor antardaerah  nilainya mencapai Rp32,3 triliun per tahun. Komoditas yang diimpor antara lain bahan makanan, makanan jadi, bahan konstruksi, transportasi, sandang, dan energi.

Baca juga: BI siapkan Rp105 triliun jelang Natal dan akhir tahun 2019

"Oleh karena itu, menurut kami hal ini perlu diwaspadai walaupun memang pertumbuhan ekonomi kita masih stabil-stabil saja," ujar dia.

Menanggapi hal ini Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi mengatakan bahwa banyaknya impor kebutuhan dari daerah lain  karena berbagai komoditas NTT ini tak dikelola secara baik karena sumber daya manusianya yang masih lemah.

"Oleh karena itu kami mengirim pemuda-pemuda terbaik kita untuk berlatih keterampilan di luar negeri, agar kelak saat kembali bisa berguna bagi daerah ini," tambah dia.

Beberapa waktu lalu ujar dia beberapa pemuda dari NTT sudah dikirim ke Australia untuk belajar selama beberapa bulan di negara Kanguru tersebut.

Pewarta: Kornelis Kaha
Editor: Nusarina Yuliastuti
Copyright © ANTARA 2019