Kilas Balik 2019

MRT sebagai gerbang menuju transportasi terintegrasi di Jakarta

MRT sebagai gerbang menuju transportasi terintegrasi di Jakarta

Warga membaca buku di Ruang Baca Jakarta, kawasan Stasiun MRT Dukuh Atas, Jakarta, Minggu (8/12/2019). Keberadaan perpusatakaan mini tersebut bertujuan untuk menumbuhkan minat baca warga Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc.

Tidak hanya itu MRT Jakarta sudah menggandeng PT KAI untuk membangun kawasan Transit Oriented Development (TOD) di Jakarta
Jakarta (ANTARA) - Mass Rapid Transportation atau akrab dikenal dengan MRT, merupakan salah satu angin segar di tahun 2019 bagi masyarakat Ibu Kota terutama bagi yang kerap beraktivitas menggunakan transportasi massal.

Animo masyarakat tergambar jelas pada saat peresmian fase pertama Moda Raya Terpadu dengan rute Bundaran HI- Lebak Bulus yang dibuka oleh Presiden Joko Widodo pada Maret 2019. MRT Jakarta bahkan langsung menargetkan 80.000 penumpang menjajal Ratangga di hari pertamanya resmi beroperasi tanpa berbayar.

Tidak hanya masyarakat biasa, bahkan artis- artis kenamaan Indonesia juga nampak hadir untuk menjajal sensasi kereta cepat yang diresmikan oleh Presiden Indonesia ketujuh itu.

Sebut saja, Anggun C Sasmi yang takjub dengan kehadiran MRT di Jakarta, bagi Anggun kehadiran MRT menjadi langkah awal transportasi umum Indonesia memiliki layanan yang setara dengan negara- negara maju.

“Keren MRT hadir di Jakarta, senang. Karena itu harus kita jaga bersama, jangan ada yang lesehan dan jangan ada perbuatan yang merusak,” ujar artis yang saat ini tinggal di Prancis.

Selang satu minggu usai peresmian MRT untuk masyarakat umum, MRT menerapkan sistem berbayar dalam pengoperasiannya dengan setengah harga pada bulan April 2019. Meski tidak sepadat pada saat gratis, kursi- kursi yang ada terisi penuh, nampak juga penumpang yang berdiri karena tidak mendapatkan kursi untuk duduk.

Pada bulan pertamanya berbayar, MRT Jakarta mencatat telah mengangkut sebanyak 79.114 penumpang. Hingga saat ini di bulan kesembilan pengoperasian MRT rute Bundaran HI- Lebak Bulus Grab tercatat sudah ada 94.785 penumpang yang terlayani oleh layanan Ratangga.

Jumlah pengguna MRT Jakarta yang terus meningkat dari waktu ke waktu itu, turut didukung oleh layanan transportasi umum pendahulunya yang semakin membaik seperti Transjakarta, Commuter Line milik PT Kereta Api Indonesia, dan yang terbaru adalah Light Rail Transportation (LRT) yang dikelola oleh anak perusahaan Jakarta Propertindo.

Seluruh pengelola ayanan transportasi umum yang sebelumnya terkesan berjalan sendiri- sendiri, dengan kehadiran MRT Jakarta mencoba saling bersinergi untuk menyatukan layanannya sehingga membuka jalan baru terhadap penggunaan transportasi umum yang terintegrasi bagi masyarakat.

Puncaknya pada saat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai merencanakan pembangunan- pembangunan infrastruktur pendukung untuk masyarakat merasakan layanan transportasi umum yang terintegrasi itu.

Integrasi untuk masyarakat

Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Transjakarta dan MRT Jakarta untuk bersinergi mengintegrasikan layanannya bagi para penumpang merasakan transportasi umum yang berkelanjutan.

Penumpang yang mencapai pusat kota dengan MRT Jakarta, dapat dengan mudah menggunakan Transjakarta karena stasiun MRT terhubung langsung dengan halte- halte Transjakarta dan MetroTrans.

Sebagai contoh bagi penumpang yang turun di Stasiun MRT Bundaran HI, dapat dengan mudah mengakses Bus Rapit Transit (BRT) melewati halte Bundaran HI atau melewati halte Metrotrans Plaza Indonesia dan Halte Metrotrans Wisma Nusantara untuk mencoba bus wisata.

Integrasi juga semakin ditonjolkan dengan peresmian Kawasan Terintegrasi Dukuh Atas yang berisikan layanan Commuter Line, layanan Transjakarta, layanan Kereta Bandara, dan MRT dengan jarak yang berdekatan.

Integrasi transportasi inilah yang nantinya akan diperbanyak di berbagai titik kawasan Ibu Kota sehingga dapat membantu masyarakat beralih dari kendaraan pribadi menggunakan kendaraan umum dan semua itu dimulai dengan kehadiran MRT Jakarta.

Baca juga: Hingga akhir 2019, MRT Jakarta angkut 94 ribu penumpang setiap hari

Selain integrasi transportasi, MRT Jakarta juga berusaha mengintegrasikan layanan dengan para penumpangnya dengan pemanfaatan ruang- ruang ketiga yang berada di stasiun- stasiunnya.

Contohnya seperti kehadiran #RuangBacaJakarta yang diluncurkan pada hari pelanggan nasional pada bulan September yang disediakan MRT Jakarta di setiap stasiunnya.

Atau layanan bagi para penyandang disabilitas dengan lift dan jalur pemandu khusus yang disiapkan di tiga belas stasiun MRT yang saat ini ada di Ibu Kota.

Kegiatan terbaru misalnya seperti perayaan natal “Christmas in Jakarta” yang memungkinkan sekelompok masyarakat dapat bernyanyi di stasiun MRT Jakarta menyambut perayaan natal layaknya di negara- negara lainnya.

Upaya- upaya pelibatan masyarakat di ruang- ruang Stasiun MRT Jakarta itu tentu memperlihatkan totalitas MRT Jakarta mengintergrasikan layanan prima tidak hanya antartransportasi tapi juga dengan masyarakat secara langsung.

Baca juga: Jepang berharap MRT Jakarta jadi simbol persahabatan dengan Indonesia

Langkah Selanjutnya

Sebagai penyedia layanan transportasi umum, MRT Jakarta tidak puas melayani penumpang untuk satu rute saja.

Layanan ditingkatkan dengan pembangunan MRT Jakarta fase II yang direncanakan rampung pada 2024 dengan rute Bundaran HI- Jakarta Kota dan berkonsep terowongan bawah tanah.

Tidak hanya itu MRT Jakarta sudah menggandeng PT KAI untuk membangun kawasan Transit Oriented Development (TOD) di Jakarta. Nantinya kawasan- kawasan itu akan menjadi titik kumpul masyarakat untuk menggunakan transportasi umum dengan mudah dengan berbagai varian transportasi umum.

Kerjasama itu nantinya akan melahirkan anak perusahaan baru yang belum diketahui namanya hingga saat ini, meski begitu kedua belah pihak yakin kerjasama itu akan efektif pada 2020 mendatang.

Kemudahan lainnya yang dikembangkan oleh MRT Jakarta dalam sistem pembayaran, mulai dari pembayaran menggunakan kartu khusus satu kali jalan atau kartu jelajah, lalu kartu jelajah multi trip, dan penggunaan kartu- kartu dompet elektronik sudah dilakukan oleh MRT Jakarta.

Pada 2020, MRT Jakarta optimis dapat mendukung pembayaran dengan sistem pembayaran dompet digital seperti LinkAja, Gopay, OVO, dan Dana menggunakan QR Code.

Meski belum genap satu tahun beroperasi sudah banyak layanan yang mulai diintegrasikan oleh MRT Jakarta, masih banyak yang bisa ditingkatkan oleh penyedia layanan kereta cepat di Ibu Kota itu untuk menyiapkan masyrakat Jakarta menyongsong tranportasi yang terintegrasi dengan lebih prima.

Baca juga: Antisipasi ancaman terorisme, PT MRT Jakarta teken MoU dengan BNPT

Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kilas Balik 2019 - Desember: Dari prestasi Indonesia di SEA Games 2019 hingga peresmian tol pertama Kalimantan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar