Minyak naik dipicu ketegangan di Timur Tengah, Brent sentuh 70 dolar

Minyak naik dipicu ketegangan di Timur Tengah, Brent sentuh 70 dolar

Ilustrasi: Suar gas dari produksi minyak di Ladang minyak Soroush di Teluk Persia, Selatan Teheran, Iran (25/7/2005). ANTARA/REUTERS/Raheb Homavandi/aa.

Kami masih mengharapkan pasar minyak yang kelebihan pasokan tahun ini
New York (ANTARA) - Harga minyak terus naik pada hari Senin (6/1) setelah militer AS membunuh seorang komandan senior Iran yang memicu kekhawatiran meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dapat mengganggu produksi energi di wilayah tersebut.

Harga patokan minyak AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari naik 0,22 dolar AS menjadi 63,27 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Baca juga: Harga minyak melonjak dipicu meningkatnya ketegangan AS-Iran

Sementara harga patokan minyak internasional, mentah Brent untuk pengiriman Maret naik 0,31 dolar menjadi ditutup pada 68,91 dolar per barel di London ICE Futures Exchange.

Harga minyak Brent mencapai 70 dolar AS per barel pada awal sesi perdagangan, mencapai tertinggi lebih dari tiga bulan.

Amerika Serikat membunuh Mayor Jenderal Qassem Soleimani, Komandan Pasukan Pengawal Revolusi Islam Iran Quds, dalam serangan udara di Baghdad pada hari Jumat (3/1) yang meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.

Pelaku pasar khawatir bahwa meningkatnya ketegangan Timur Tengah dapat berdampak pada produksi energi di kawasan kaya minyak, yang menyumbang hampir sepertiga dari pasokan minyak global, kata para analis.

Namun para analis juga mencatat bahwa meskipun ada ketegangan geopolitik, kapasitas cadangan dalam minyak mungkin tetap memadai.

"Kami masih mengharapkan pasar minyak yang kelebihan pasokan tahun ini karena pertumbuhan pasokan non-OPEC melampaui pertumbuhan permintaan minyak yang moderat," kata kepala investasi UBS Global Wealth Management Mark Haefele dan timnya dalam sebuah catatan pada hari Senin (6/1).

Sementara harga minyak kemungkinan akan membangun premi risiko yang lebih besar di tengah ketegangan politik yang meningkat, harga Brent akan berjuang untuk bertahan di atas 70 dolar AS per barel pada paruh pertama 2020, kata analis UBS itu.

Baca juga: Harga minyak naik di tengah penurunan stok minyak AS
Baca juga: Harga minyak naik dipicu penurunan jumlah rig AS


 

Penerjemah: Risbiani Fardaniah
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Tekan impor minyak, Pertamina hemat devisa Rp37 triliun

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar