Harga jual BBM dan elpiji di Desa Lebaksitu naik

Harga jual BBM dan elpiji di Desa Lebaksitu naik

Ajat pemilik pertamini di Desa Lebaksitu, Kabupaten Lebak memeriksa pasokan BBM di Lebak, Minggu malam (12/1/2020). (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

Banten (ANTARA) - Harga jual bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite di Desa Lebaksitu, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak Provinsi Banten pascatanah longsor mencapai Rp16.500 per liter.

"Kami terpaksa jual dengan harga Rp16.500 karena akses ke desa ini terputus akibat tanah longsor sehingga pasokan minyak sulit didapatkan," kata salah seorang pemilik pertamini di Desa Lebaksitu Ajat (33), Senin.

Ia mengatakan sebelum bencana alam melanda daerah itu, harga jual BBM jenis pertalite hanya Rp10 ribu per liter. Namun, kenaikan signifikan terjadi pada Jumat (3/1).

Baca juga: Menperin lepas bantuan bencana korban banjir di Lebak

BBM jenis pertalite tersebut dipesan Ajat menggunakan jasa ojek ke salah seorang agen di Desa Lebakgedong dengan harga beli Rp11 ribu per liter. Minyak tersebut diantarkan hingga titik terakhir jalan utama menuju Desa Lebaksitu yang terputus.

"Satu kali pesan menggunakan ojek saya harus mengeluarkan biaya Rp10 per jeriken yang berisi 35 liter," katanya.

Dari titik itu, Ajat kembali harus mengeluarkan ongkos atau jasa tukang pikul sebesar Rp65 ribu per jeriken isi 35 liter. BBM tersebut diangkut oleh warga setempat dengan berjalan kaki sekitar dua hingga tiga kilometer ke warungnya.

Pascatanah longsor tersebut, ia mampu menjual hingga 50 liter BBM jenis pertalite. Penjualan itu naik 15 liter dari situasi normal biasanya. Tingginya permintaan dikarenakan warga setempat saat ini mengandalkan pertalite sebagai bahan bakar mesin genset.

Baca juga: ACT fokuskan bantuan untuk desa terisolir

"Sejak hari pertama kejadian aliran listrik sudah terputus sehingga warga sekitar menggunakan mesin genset untuk penerangan," katanya.

Selain BBM jenis pertalite, harga jual elpiji tiga kilogram di Desa Lebaksitu juga mengalami kenaikan signifikan yakni mencapai Rp70 ribu dari Rp25 ribu harga biasanya.

"Kebetulan saya tidak jual elpiji, tapi kalau beli di warung harganya Rp70 ribu per tabung," ujarnya.

Sementara itu kepala desa setempat Tubagus Imron mengatakan pascatanah longsor dan banjir bandang berbagai harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan signifikan.

"Harga otomatis naik. Hal itu dikarenakan akses ke desa ini terputus sehingga ada biaya lebih yang harus dikeluarkan pedagang setempat," kata dia.

Ia berharap pemerintah pusat dan daerah segera membantu menangani bencana di daerah itu terutama akses jalan utama yang masih terputus akibat tanah longsor.

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Konsumsi BBM Jateng diprediksi naik 8 persen pada libur Nataru

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar