Gubernur BI sebut pertumbuhan pembiayaan fintech melonjak 141,5 persen

Gubernur BI sebut pertumbuhan pembiayaan fintech melonjak 141,5 persen

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kiri) didampingi Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (kiri) beserta dua Deputi Gubernur Erwin Rijanto (kedua kanan) dan Rosmaya Hadi (kanan) memberikan keterangan pers hasil rapat dewan gubernur BI bulan Januari 2020 di Jakarta, Kamis (23/1/2020). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/hp.

Di tengah pertumbuhan kredit yang belum kuat, sumber pembiayaan ekonomi lain seperti penerbitan baru obligasi korporasi dan fintech tumbuh tinggi
Jakarta (ANTARA) - Perusahaan finansial berbasis aplikasi/situs atau financial technology (fintech) mencetak pertumbuhan pembiayaan hingga 141,5 persen secara tahunan (yoy) pada 2019, dan hal itu mengkompensasi pertumbuhan kredit perbankan yang hanya naik 6,08 persen (yoy) pada tahun lalu.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis, mengatakan pembiayaan dari fintech untuk perekonomian meningkat pesat, di tengah melambatnya pertumbuhan kredit perbankan. Selain itu, fungsi intermediasi perbankan juga tumbuh lebih lambat dibandingkan penerbitan baru obligasi korporasi yang naik 7,6 persen (yoy) pada 2019.

"Di tengah pertumbuhan kredit yang belum kuat, sumber pembiayaan ekonomi lain seperti penerbitan baru obligasi korporasi dan fintech tumbuh tinggi masing-masing sebesar 7,6 persen dan 141,5 persen," ujarnya.

Perry mengakui fungsi intermediasi perbankan yang melambat kini menjadi perhatian bank sentral. Otoritas berjanji akan memberikan stimulus terhadap perbankan dengan mempertimbangkan jalur kemudahan likuiditas atau penurunan suku bunga acuan.

Hal yang membuat Bank Indonesia optimistis penyaluran kredit akan membaik di 2020 adalah pertumbuhan ekonomi domestik yang diperkirakan akan lebih menggeliat pada 2020 dibanding tahun lalu dan perbaikan pertumbuhan ekonomi global pada 2020.

Selain itu di faktor domestik, dampak dari penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia sebanyak 100 basis poin pada 2019 akan mulai berdampak pada penurunan suku bunga kredit bank. Dengan begitu, diharapkan pembiayaan dari bank akan lebih murah sehingga akan meningkatkan volume dan nilai kredit.

"Transmisi ke suku bunga perbankan masih terus berlanjut, meskipun belum optimal," ujarnya.

Perry menjelaskan rerata tertimbang suku bunga deposito pada Desember 2019 tercatat 6,31 persen atau turun 52 basis poin sejak akhir Juni 2019, sebelum suku bunga acuan mulai diturunkan pada bulan Juli 2019.

Sementara itu, suku bunga kredit modal kerja turun 33 basis poin (bps) sejak akhir Juni 2019 atau 47 basis poin sejak Januari 2019 menjadi 10,09 persen pada Desember 2019.

Pada 2020 Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit di 10-12 persen, atau sama dengan proyeksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang sebesar 11 persen plus minus satu persen.

"Ke depan, Bank Indonesia tetap menempuh kebijakan makroprudensial yang akomodatif dan memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait sehingga dapat tetap menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong fungsi intermediasi perbankan," ujar Perry.

Baca juga: IHSG Kamis sore lanjut menguat, pasca-Bank Indonesia tahan suku bunga

Baca juga: Rupiah menguat usai Bank Indonesia tahan suku bunga acuan
Baca juga: BI: Kebijakan akomodatif, ruang penurunan suku bunga terbukaBaca juga: BI pertahankan suku bunga acuan lima persen



 

Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Jelang Ramadhan Sumbar harus antisipasi pasokan kebutuhan pokok

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar