Menkes: Pendekatan kultural eradikasi malaria luar biasa

Menkes: Pendekatan kultural eradikasi malaria luar biasa

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (tengah depan) dalam Pengukuhan Guru Besar Biomedik Poltekkes Kemenkes di Jakarta, Kamis (23/1/2020). (ANTARA/Katriana)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto mengatakan upaya pemberantasan larva nyamuk anopheles sp yang menjadi vektor malaria melalui pendekatan sosial kultural, pendekatan ilmiah dan biomedik merupakan prestasi yang sangat luar biasa.

"Saya merasa bangga. Apa yang dihasilkan tentang bagaimana mengeradikasi anopheles sp melalui pendekatan sosial kultural, ilmiah dan biomedik menjadi sebuah novelty," kata Menkes dalam sambutannya pada acara Pengukuhan Guru Besar Biomedik di Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Jayapura di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan salah satu strategi intervensi dalam penguatan pelayanan kesehatan dasar saat ini adalah melalui penguatan upaya promotif preventif dan primary health care serta optimalisasi sistem rujukan yang berbasis kepada kompetensi.

Penguatan upaya tersebut, katanya, selaras dengan yang disampaikan Guru Besar Biomedik Yohanna Sorontou dalam orasi ilmiahnya yang bertema "Teknologi Tepat Guna: Eradikasi Larva Nyamuk Anopheles sp Berbasis Kearifan Lokal".

Sebagai negara yang terbentang di garis khatulistiwa, Indonesia termasuk negara tropis yang memiliki daerah endemis malaria.

Oleh karena itu, Indonesia memerlukan upaya penguatan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat dalam menjaga lingkungan tempat tinggal dalam pengendalian dan penyebaran malaria.

Menkes mendukung upaya eradikasi larva nyamuk anopheles sp sebagai vektor malaria yang dilakukan dengan konsep sosial, ekonomi dan lingkungan.

"Sungguh ini sebuah novelty. Saya mengajak semua pihak untuk bekerja sama dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan yang sedang kita lakukan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia," katanya.

Sementara itu, Guru Besar Biomedik Yohanna Sorontou dalam orasi ilmiahnya menyampaikan alasannya membuat penelitian tersebut adalah karena malaria masih menjadi masalah utama bagi kesehatan masyarajat di Jayapura.

Selain itu, sekitar 219 juta kasus malaria juga ditemukan di 97 negara pada 2017, meningkat dari 216 juta kasus pada 2016, dengan angka kematian 435 ribu orang per tahun.

Pada 2017, penyakit malaria berada pada urutan kedua dari 10 besar jenis penyakit yang dilaporkan di Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura dengan jumlah 22.140 kasus.

Besarnya angka kasus tersebut, katanya, disebabkan oleh kurangnya kepedulian pasien terhadap kebersihan lingkungan sehingga malaria terus berkembang.

Oleh karena itu, ia berupaya mencari tahu cara pemverantasannya melalui uji efektivitas abate dan kapur kerang anadonta anatinae terhadap larva nyamuk anopheles sp sebagai vektor malaria. di Kota dan Kabupaten Jayapura, Papua.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kapur kerang anadonta anatinae dapat mematikan larva anopheles sp selama 60 menit hingga 24 jam sebanyak 100 persen. Sedangkan abate mematikan larva tersebut dalam waktu 60 menit hingga 90 menit, sebanyak 100 persen.

Ia menyimpulkan penelitian menunjukkan hasil yang efektif dalam eradikasi larva anophes sp sebagai vektor malaria.

Uji resistensi parasit malaria juga memberi informasi efektif terhadap kebijakan pemerintah dalam memutuskan pergantian obat malaria yang sesuai dengan jenis parasit malaria.

Kemudian, bubuk kapur kerang anadonta anatinae terbukti efektif digunakan oleh masyarakat sebagai larvasida di Papua dan Papua Barat, bahkan juga dapat digunakan pada ekosistem tempat larva di Indonesia.
Baca juga: Kenali jenis nyamuk penganggu di sekitar rumah
Baca juga: Air kotor tempat perkembangbiakan nyamuk malaria
Baca juga: Belasan Desa di Pekalongan Endemis Malaria

Pewarta: Katriana
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Presiden minta kriteria daerah yang bisa terapkan PSBB

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar