Artikel

Gaya hidup "zero waste" yang semakin dilirik

Oleh Nanien Yuniar

 
Ilustrasi zero waste (Shutterstock)


Setahun pertama mulai menerapkan "zero waste" saat makan atau minum di restoran, tak jarang permintaannya diabaikan. Masih saja ada orang yang memberikan sedotan plastik meski sejak awal dia sudah mewanti-wanti.

Tapi kini Nana memutuskan untuk tidak terlalu ambil pusing bila orang lain berbeda. Yang terpenting adalah dia berusaha sebaik-baiknya untuk mengurangi sampah plastik.

Beberapa waktu belakangan gaya hidup ramah lingkungan semakin diminati kaum urban.

"Mungkin orang harus kayak 'ditampar', sekarang lagi banyak yang berdiskusi setelah banjir, jadi banyak yang bicara tentang cara menjaga lingkungan agar banjir tak lagi terjadi," ujar dia.
 
Sedotan stainless (Shutterstock)

Baca juga: Cari baju baru untuk lebaran? Cobalah tukar baju

Baca juga: Kemenpar sambut baik "zero waste picnic"

Namun satu hal yang patut diingat dari gaya hidup "zero waste" adalah kita bisa memanfaatkan apa yang sudah ada di rumah, bukannya mendorong nafsu untuk berbelanja produk-produk "ramah lingkungan". Prinsipnya adalah memakai benda-benda yang sudah ada, meminimalisasi yang tidak diperlukan.

"Lihat barang yang sudah dipunyai, enggak terburu-buru pengin beli ini dan itu. Dulu, saya sering beli-beli, tapi sekarang kalau dipikir-pikir saya tidak perlu tas makan atau tumblr baru," kata Nana.

Apa yang dia lakukan selama beberapa tahun belakangan kini menular pada keluarga dan teman-teman dekatnya.

Ketika mengadakan acara kumpul saat Lebaran, misalnya, alih-alih membeli air dalam gelas kemasan dia justru menyediakan galon-galon air. Sampah plastik jauh berkurang, meski dia harus rela menyisihkan waktu untuk mencuci gelas bekas pakai.

"Teman-teman juga awalnya menganggap aneh, karena saat makan di restoran yang pakai sumpit plastik, saya memilih pakai sumpit sendiri dari kayu. Lama-lama bisa lho suatu saat teman saya bawa sumpit sendiri, terus malah saya yang kelupaan," dia tertawa. "Lumayan sudah berpengaruh ke teman-teman dan sekitar, termasuk di rumah."

Baca juga: Menakar perilaku minim sampah pengunjung "car free day" Jakarta

Baca juga: Gaya hidup minim sampah bukan sekadar diet plastik

Baca juga: Gaya hidup minim sampah ala Cleanomic

Kurangi sampah plastik dengan zero waste living

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar