Ketua MPR sayangkan penolakan WNI dari Wuhan di Natuna

Ketua MPR sayangkan penolakan WNI dari Wuhan di Natuna

Ketua MPR Bambang Soesatyo (tengah) usai menemui Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Kantor Wapres Jakarta, Selasa (4/2/2020). ANTARA/Fransiska Ninditya/am.

... tidak sepatutnya sesama saudara, warga negara Indonesia, saling menolak...
Jakarta (ANTARA) - Ketua MPR, Bambang Soesatyo, menyayangkan sikap penolakan sebagian warga Natuna terhadap keberadaan 238 warga negara Indonesia yang dievakuasi dari Wuhan, China, karena dugaan paparan virus corona.

"Sebagai sesama anak bangsa, ini sebetulnya tidak patut dan kami menyayangkan hal itu terjadi. Sungguh tidak sepatutnya sesama saudara, warga negara Indonesia, saling menolak," kata dia, usai menemui Wakil Presiden, Ma'ruf Amin, di Kantor Wakil Presiden, di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Ketua MPR imbau pemerintah terbuka terkait informasi corona

Soesatyo mengatakan karantina yang dilakukan pemerintah terhadap ratusan WNI yang dipulangkan dari Wuhan, China, itu upaya preventif terhadap kemungkinan penyebaran virus corona yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 300 orang di seluruh dunia dengan kebanyakan korban ada di China. Sehingga, warga setempat di Natuna seharusnya mendukung upaya pemerintah itu.

"Apalagi yang datang itu bukan dalam keadaan sakit, tapi mereka orang yang sehat yang perlu diobservasi untuk mencegah penularan. Mereka sehat, karena ada beberapa yang tidak bisa dievakuasi karena diindikasi tertular, jadi yang datang itu yang sehat," katanya.

Baca juga: Tim WHO akan ke China untuk selidiki virus corona

Pemerintah telah mengevakuasi 238 WNI dari Wuhan, Provinsi Hubei, di China, ke Pangkalan Udara TNI AU di Natuna, Kepulauan Riau. Dari Wuhan, mereka diterbangkan pesawat terbang badan lebar Airbus A-330-300 milik maskapai penerbangan Lion Air menuju Bandara Internasional Hang Nadim di Batam, Kepulauan Riau, yang memiliki landasan cukup untuk pendaratan pesawat terbang sekelas itu.

Dari Bandara Internasional Hang Nadim, tanpa memasuki terminal kedatangan, mereka langsung menuju kabin dua Boeing B-737-300 Skuadron Udara VIP 17 TNI AU dan satu C-130H Hercules dari Skuadron Udara 31 TNI AU, untuk kemudian diterbangkan sejauh 560 kilometer ke arah timur laut, ke ke Pangkalan Udara TNI AU Raden Sajad, di Kepulauan Natuna. 

Baca juga: Pemerintah jamin evakuasi WNI dari Wuhan tak bahayakan warga Natuna

Di sanalah mereka dikarantina di dalam hanggar pesawat terbang dengan tenda-tenda rumah sakit lapangan yang dipersiapkan secara khusus untuk itu.

Pada sisi lain, keberadaan ratusan WNI dari Wuhan itu sempat menimbulkan keresahan di beberapa masyarakat Natuna karena khawatir virus tersebut akan menyebar ke warga setempat yang tinggalnya berdekatan dengan lokasi isolasi.

Bupati Natuna, Abdul Hamid Rizal, mengaku keresahan warga sudah mulai reda dan masyarakat setempat bisa menerima keberadaan ratusan WNI itu.

Baca juga: Wali Kota: Tidak ada penolakan kedatangan WNI dari Wuhan di Batam

"Sekarang nampaknya sudah mulai mengerti tentang apa yang dilakukan oleh pemerintah pusat, jadi sudah mulai tenang," kata Hamid, di Kantor Kementerian Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan di Jakarta, Selasa.

Adapun Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, mengakui ada masalah komunikasi kepada masyarakat setempat tentang penetapan Natuna sebagai lokasi karantina --diistilahkan juga sebagai observasi kesehatan-- 238 WNI yang dipulangkan dari Wuhan itu. 

Baca juga: Evakuasi WNI dari Wuhan, Mahfud akui keterlambatan informasi ke Natuna

 

Pewarta: Fransiska Ninditya
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Ketua MPR ajak masyarakat terapkan 5 disiplin

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar