"Deal Of Century" ditolak dan dikecam Adara-FOLPIP

"Deal Of Century" ditolak dan dikecam Adara-FOLPIP

Ketua Adara Relief International Nurjanah Hulwani. (FOTO ANTARA/Istimewa)

Deal Of Century semakin melegitimasi penjajahan Israel atas tanah bangsa Palestina dan "Negara Palestina Baru" yang diusulkan adalah negara semu karena dibentuk dari beberapa wilayah yang terpisah-pisah
Depok (ANTARA) - Lembaga Internasional Adara Relief Internasional dan Forum Ormas dan Lembaga Perempuan Indonesia untuk Palestina (FOLPIP) menyatakan sikap yang sejalan dengan pernyataan dari Global Women's Coalition for Al Quds and Palestine (GWCQP) yaitu dengan tegas menolak dan mengecam "Deal Of Century" (Kesepakatan Abad Ini).

"Mencermati perkembangan terakhir setelah diumumkan Deal of Century pada 28 Januari 2020, serta reaksi bangsa Palestina terhadap nasib mereka, maka kami mengecam dan menolak Deal of Century," kata Ketua Adara Relief International Nurjanah Hulwani dalam penjelasan di Depok, Rabu.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggagas pertemuan untuk membahas solusi konflik Israel-Palestina dan mengajukan proposal yang disebut "The Deal of The Century". Namun, Palestina menolak usulan itu.

Menurut Nurjanah Deal Of Century semakin melegitimasi penjajahan Israel atas tanah bangsa Palestina dan "Negara Palestina Baru" yang diusulkan adalah negara semu karena dibentuk dari beberapa wilayah yang terpisah-pisah.

Dikatakannya melucuti persenjatan militer Palestina sama dengan menghapus unsur penting sebuah negara yang berkewajiban melindungi warga negaranya, terutama termasuk di antaranya perempuan dan anak-anak.

"Deal of Century yang menetapkan Yerusalem sepenuhnya sebagai ibu kota Israel dengan tetap menjamin umat Islam aman mendatangi Masjid Al-Aqsa merupakan klaim sepihak dan janji-janji manis untuk melegalkan perampasan dan penjajahan," katanya.

Nurjanah mengatakan janji investasi 50 miliar dolar AS untuk pembangunan Palestina tidak sebanding dengan penderitaan lebih dari 100 tahun bangsa Palestina.

Ia menegaskan resolusi PBB tentang hak kembali para pengungsi diinjak-injak, karena Deal of Century menghapus hak kembali para pengungsi ke tanah asal mereka.

Daftar panjang kejahatan kemanusiaan Israel atas bangsa Palestina, katanya, harus segera dihentikan dan diproses secara hukum dengan seadil-adilnya.

Adara Relief International dan Forum Ormas dan Lembaga Perempuan Indonesia untuk Palestina (FOLPIP) mengimbau kepada semua pihak, secara lokal atau regional dan internasional untuk terus mendukung kedaulatan dan kemerdekaan bangsa Palestina, membela hak-hak kaum terjajah dan segera menghentikan penjajahan serta kezhaliman Israel terhadap bangsa Palestina.

"Perdamaian dunia akan benar-benar tercipta bila penjajahan di atas bumi berhasil dihapuskan," kata Nurjanah Hulwani.

Adara Relief Internasional juga memrakarsai terbentuknya Forum Ormas dan Lembaga Perempuan Indonesia untuk Palestina (FOLPIP) yang terdiri atas PP Muslimat Mathla'ul Anwar (Musma), PP Wanita PUI, PB Wanita Al Irsyad, PP Persaudaraan Muslimah (Salimah), PP Wanita Islam.

Selanjutnya IGRA Jaksel, PP Wanita Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (ALLPIND), PP MuslimatHidayatullah (Mushida), Korps HMI-wati (KOHATI) PB HMI, Korpres FORHATI, PP Muslimat Dewan Dakwah, PP Muslimat Al-Ittihadiyah, PP Muslimat Al-Washliyah.

Baca juga: Indonesia kecam Israel sebagai penghambat perdamaian Timur Tengah

Baca juga: MER-C-Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo diskusikan Palestina

Baca juga: Indonesia lanjutkan diplomasi bela Palestina pada 2020

Baca juga: Indonesia desak Israel hentikan pemukiman ilegal di Palestina


 

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Mengenal Goa Selarong, markas Diponegoro melawan kolonial Belanda

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar