Jakarta (ANTARA News) - Sekretaris Fraksi Partai Persatuan Pembangunan di DPR RI, Suharso Monoarfa, di Jakarta, Selasa, menyatakan, kasus tewasnya Ketua DPRD Sumatera Utara, H Abdul Azis Angkat sesudah adanya aksi massa yang anarkhis, merupakan preseden buruk ke depan.

"Manakalah unjuk rasa sampai membuat seseorang terancam nyawanya, dan bahkan kemudian menewaskannya, maka bukankah ini suatu preseden buruk ke depan, termasuk terkait dengan menjalankan tugas-tugas legislatif," tanyanya melalui ANTARA.

Ia mengatakan itu, menanggapi meninggalnya H Abdul Azis Angkat, Selasa siang, sesudah terjadi aksi unjuk rasa anarkhis di Gedung Dewan, Medan.

Terhadap hal ini, demikian Suharso Monoarfa, yang utama harus dilakukan, ialah, Polri segera mengusut peristiwa tersebut.

"Memang ajal ditentukan Allah, dan meski konon almarhum mengidap penyakit jantung, tetap perlu dipastikan penyebab kematian almarhum," katanya.


Hindari Penekanan Massal

Suharso Monoarfa juga mengatakan, penekanan massal yang secara psikologis dapat berakibat fatal, harus dihindari.

Berkaca pada peristiwa wafatnya Ketua DPRD Sumut setelah adanya aksi unjuk rasa yang berakhir anarkhis tersebut, ia menilai, penekanan massal memang harus dihindari.

"Dan karena itu, harus ada pengaturan unjuk rasa tanpa mengorbankan pesan dan aspirasi yang akan disampaikan," katanya lagi.

Sebagaimana dilaporkan dari Medan oleh wartawan, H Abdul Aziz Angkat meninggal saat sedang dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tak tertolong, karena diduga terkena pula serangan jantung.

Sebelumnya, almarhum terjatuh saat diserang para demonstran yang beberapa di antaranya sempat memukuli tubuhnya.

Mendahului kejadian tragis itu, para demonstran yang menuntut terbentuknya atau dimekarkannya Provinsi Tapanuli (Protap) ini telah `menguasai` dan menduduki Gedung DPRD Sumatera Utara (Sumut).

Dari tempat kejadian dilaporkan pula, almarhum tumbang bukan hanya karena serangan, namun terkena `shock` serta serangan jantung mendadak.(*)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009