Jakarta (ANTARA News) - Sebuah tabrakan satelit yang belum pernah terjadi sebelumnya, Rabu (Kamis pukul 23.55 WIB), menimpa satelit komunikasi AS Iridium 33 dengan satelit yang sudah tidak digunakan, Cosmos 2251, milik Rusia.

Tabrakan di angkasa di sebelah utara Siberia itu tepatnya terjadi pada pada garis lintang (latitude 72° 30' 04''), garis bujur (longitude 97° 52' 46''), dan pada ketinggian 788.68 km (490.0 miles).

Menurut Pakar Antariksa dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin melalui telepon genggamnya dari Bandung, Kamis, jaringan radar pemantau antariksa milik Departemen Pertahanan AS mengkonfirmasi terjadinya tabrakan itu.

Tabrakan itu telah menghasilkan lebih dari 500 keping pecahan satelit.

"Tabrakan ini makin menambah padatnya sampah antariksa, sehingga potensi tabrakan akan semakin besar," katanya.

Tabrakan tersebut disebutkan menyebabkan pecahan angkasa paling buruk sejak pengrusakan satelit pemantau iklim yang sudah tua milik China secara sengaja pada 2007 dan meninggalkan sampai 2.500 pecahan di orbit bumi.

Sampai akhir Maret 2004, urai Djamal, di antariksa masih terdapat 9.236 benda yang mengorbit bumi yang terdeteksi radar pemantau antariksa.

Dari jumlah itu 2.988 berupa satelit, baik yang masih berfungsi maupun tidak berfungsi lagi, selebihnya 6.248 adalah sampah, berupa badan roket atau pecahan satelit atau roket.

Jumlah sampah antariksa mendominasi wilayah orbit satelit. Amerika Serikat dan Negara-negara bekas Uni Sovyet merupakan pemilik terbesar benda antariksa tersebut.

Menurut Djamal, benda antariksa buatan manusia dapat dikelompokkan dalam empat jenis orbit. Terbanyak berada pada orbit rendah (LEO = Low Earth Orbit) dengan ketinggian kurang dari 5500 km. Satelit eksperimen ilmiah dan satelit penginderaan jauh umumnya berada pada orbit ini.

Terbanyak ke dua berada pada orbit geosinkron (GEO = Geosynchronous Earth Orbit) pada ketinggian 36.000 km di mana satelit telekomunikasi dan pengamat cuaca umumnya berada pada orbit ini.

Orbit menengah (5.500-36.000 km) disebut MEO (Medium Earth Orbit). Sistem satelit navigasi milik Amerika Serikat, GPS (Global Positioning System) dan milik Rusia, GLONASS (Global Navigation Satellite System) menempati orbit menengah ini, juga roket-roket peluncur satelit komunikasi banyak yang masih berada pada orbit ini.
(*)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2009