Jakarta (ANTARA News) - Kalangan pelaku usaha kecil dan menengah mengungkapkan masih menemui kendala dalam mendapatkan modal usaha meskipun telah bermitra dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Seperti diungkapkan Hoiri pengusaha busana busana pria dan wanita asal Bandar Lampung, yang menjadi peserta Pameran Gelar Karya Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) BUMN 2009, di Balai Sidang Jakarta, Kamis.

Pria yang dalam usahanya bermitra dengan PT Sucofindo itu telah mengajukan pinjaman sebesar Rp70 juta sejak 2007, tetapi baru terealisasi 2009 sebesar Rp20 juta.

"Mulanya saya mengajukan pinjaman sebesar Rp70 juta, namun tak kunjung cair selama dua tahun menunggu. Akhirnya 2009 dana cair, tetapi jumlahnya berkurang menjadi sebesar Rp20 juta," ujarnya.

Hoiri berharap BUMN mempermudah proses pencairan dana pinjaman lunak UKM untuk membantu pengusaha kecil yang baru memulai usaha. Ia juga berharap BUMN memberikan pinjaman secara merata.

"Jangan bantu pengusaha yang sudah sukses saja, tetapi perhatikan juga pengusaha baru," kata pria yang mendapatkan omzet sebesar Rp1,5 juta pada hari pertama itu. Sementara itu, Panut, pengusaha kerajinan rotan dari Yogyakarta mengakui PKBL BUMN sangat membantu dalam permodalan dan pemasaran usahanya, namun dari segi bahan baku masih kesulitan mendapatkannya.

"Rotan sebagai bahan baku utama, menjadi sulit saat ini karena banyak yang diekspor," kata Panut yang bermitra dengan Pertamina.

Dia menambahkan, selama pemerintah masih memberikan izin untuk mengekspor bahan baku rotan, dirasa bahan baku akan semakin mahal dan sulit didapatkan

"Ekspor bahan baku rotan memang lebih menguntungkan, namun hal itu akan mempersulit kami sebagai pengrajin rotan untuk kedepannya,"katanya.


Tingkatkan omzet

Meskipun masih menghadapi sejumlah kendala namun para pelaku UKM umumnya menilai program PKBL BUMN berhasil meningkatkan omzet atau tingkat penjualan UKM.

Seorang pengusaha batik yang mengikuti pameran tersebut, Niken, mengatakan omzet penjualannya pada hari pertama mencapai Rp5 juta per hari tanpa harus mengeluarkan uang untuk sewa tempat.

"Kami tidak dipungut biaya sewa kios selama pameran, jadi kita bisa tidak perlu keluar uang tambahan untuk dapatkan pendapatan lebih," katanya.

Pengusaha batik yang dibina oleh BUMN Bank Mandiri itu memberikan respon positif terhadap PKBL selain itu dia juga mendapatkan uang saku ekstra sebesar Rp1 Juta selama lima hari sehingga dapat digunakan untuk membantu menutupi biaya operasional.

Niken juga mengatakan, mendapatkan pinjaman lunak sebesar Rp7 juta yang harus dikembalikan dalam jangka waktu dua tahun dengan bunga di bawah satu persen per bulan.

"Untuk mengembalikan modal Rp7 juta itu, kita diberikan jangka waktu dua tahun dengan iuran per bulan sebesar Rp350 ribu," katanya

Selain pinjaman lunak, BUMN juga membantu promosi UKM yang dibina dengan menggelar pameran tersebut.

Agus pengrajin kuningan dan tembaga dari Mojokerto Jawa Timur mengatakan, PKBL BUMN merupakan program yang memihak pada rakyat kecil dan menengah.

"Program ini bagus, ditambah dengan diadakannya pameran ini dan pameran lain yang diadakan pemerintah,"kata Agus yang usahanya bermitrakan dengan Pertamina.

Pameran yang berlangsung dari 18-22 Februari 2009 itu merupakan kesempatan baik buat usahanya untuk meningkatkan omset dan pangsa pasar hal itu terlihat pada hari pertama sudah ada transaksi sebesar Rp6 juta.

Selain di dalam negeri Agus sempat mengikutkan produknya pada ajang pemeran di tingkat internasional yakni di London Inggris.

"Produk usaha saya sempat dikirim ke London, hasilnya belum dihitung secara menyeluruh karena barangnya baru datang kemarin, namun kabarnya lumayan," tambahnya.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009