Jakarta, (ANTARA News) - Badan Pengawas.Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan produk makanan mengandung susu yang terdaftar di instansinya menurut hasil pemeriksaan laboratorium tidak terdeteksi mengandung melamin.

Kepala BPOM Husniah Rubiana Thamrin Akib di Jakarta, Jumat, mengatakan dari 10 produk susu yang menurut hasil penelitian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengandung melamin lima diantaranya terdaftar di BPOM dan kelimanya tidak terdeteksi mengandung melamin.

Kelima produk yang menurut hasil pemeriksaan laboratorium dengan alat LC MS/MS (Liquid Chromatography Mass Spectrometric) tidak terdeteksi mengandung melamin yakni Kino Bear Coklat Crispy isi 3X3,5 gram produksi PT Kinisentra Industrindo, susu kental manis F&N, Dutchmill Yogurt Drink Natural, Pura Low Fat UHT Milk Baverage satu liter dan Crown Lonx biskuit rasa coklat.

Sedangkan lima produk lain yang tidak terdaftar di BPOM dua diantaranya terdeteksi mengandung melamin.

Keduanya adalah Yake Assorted Candies (permen coklat panjang) 500 gram yang mengandung 5,86 bagian per juta (bpj) melamin dan Yake Assorted Candies (permen coklat lonjong) 500 gram mengandung 5,86 bpj melamin.

"Untuk kembang gula Tirol Choco Mix dan Fan Fun Sweetheart Biscuit kami belum bisa menemukan sampelnya jadi belum bisa diuji," katanya.

Sementara merek lain yang tidak terdaftar yakni Nestle Bear Brand Sterilized Low Fat Milk isi 140 ml tidak terdeteksi mengandung melamin.

"Produk pangan tidak terdaftar yang ditemukan akan diamankan dan dimusnahkan setelah ada keputusan dari pengadilan," katanya.

BPOM, kata dia, juga melakukan proses proyustisia untuk terhadap produsen dan importir produk makanan yang terdeteksi mengandung melamin.

Ia menambahkan, dalam hal ini BPOM tidak memberikan toleransi pada produk yang mengandung melamin. "Harus tidak ada sama sekali, nol," katanya.

Terkait perbedaan antara hasil pemeriksaan kandungan yang dilakukan BPOM dan YLKI, Husniah mengatakan bahwa hal itu kemungkinan terjadi karena perbedaan kepekaan alat deteksi yang digunakan.

BPOM memeriksa kandungan melamin pada produk tersebut dengan alat yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni LC MS/MS dengan kemampuan deteksi sampai 0,05 bpj.

Ia menjelaskan, ada juga alat lain yang biasa digunakan untuk deteksi kandungan melamin yakni High Pressure Liquid Chromatography (HPLC) namun alat itu tidak hanya mendeteksi melamin saja tapi juga bahan lain yang punya sifat fisik dan kimia mirip melamin.

"HPLC tidak direkomendasikan untuk pemeriksaan `candies` dan `cookies`," kata Husniah.

Rabu (4/3) lalu Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengumumkan hasil penelitian terhadap 28 produk susu yang beredar di toko ritel moderen di Jakarta.

Hasil penelitian yang dilakukan di Departemen Kimia Fakultas MIPA Universitas Indonesia pada Desember 2008 itu menunjukkan bahwa 10 dari produk yang diteliti mengandung melami dengan kadar antara 1,15 bpj hingga 97,28 bpj.(*)

 

Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2009