Cegah COVID-19, akademisi FK Unej minta warga Jember terapkan PHBS

Cegah COVID-19, akademisi FK Unej minta warga Jember terapkan PHBS

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Jember dr Angga Mardro Raharjo saat memberikan paparan  ilmiah dalam forum diskusi berjudul "Perilaku Sehat Untuk Antisipasi COVID-19 di aula lantai 3 gedung Pascasarjana Universitas Jember, Jatim, Rabu (11/3/2020). (FOTO ANTARA/ HO- Humas Unej)

Masyarakat agar segera melakukan pemeriksaan kesehatan saat terjadi demam yang disertai batuk dan nyeri tenggorakan karena gejala-gejala itu merupakan salah satu indikasi pertama infeksi COVID-19
Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Jember meminta masyarakat di Kabupaten Jember, Jawa Timur untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk mencegah penyebaran virus COVID-19 di wilayah setempat dan tidak panik berlebihan menanggapi virus tersebut.

"Kami meminta agar masyarakat tidak perlu berlebihan dalam merespon penyebaran virus COVID-19," kata dosen Fakultas Kedokteran Universitas Jember dr Angga Mardro Raharjo saat memberikan paparan ilmiah dalam forum diskusi berjudul "Perilaku Sehat Untuk Antisipasi COVID-19 di aula lantai 3 gedung Pascasarjana Universitas Jember, Rabu.

Ia meminta agar masyarakat mulai membiasakan diri menerapkan PHBS, terutama dalam menjaga kebersihan tangan dengan lebih sering melakukan cuci tangan setelah melakukan aktivitas luar.

"Biasanya masyarakat mencuci tangan hanya pada saat mau makan saja, padahal saat mengusap wajah dengan tangan pun juga berpotensi tertular virus yang menempel di tangan pada saat aktivitas sebelumnya," katanya.

Ia mengingatkan agar masyarakat untuk segera melakukan pemeriksaan kesehatan saat terjadi demam yang disertai batuk dan nyeri tenggorakan karena gejala-gejala itu merupakan salah satu indikasi pertama infeksi COVID-19.

"Terutama bagi mereka yang baru saja bepergian ke negara-negara terdampak COVID-19 atau pernah melakukan komunikasi langsung dengan pasien positif corona, namun jangan asal demam dan batuk dianggap terjangkit virus itu," katanya.

Angga menjelaskan kasus kematian yang disebabkan COVID-19 sebenarnya relatif sangat kecil dan dari sekian banyak kasus yang terjadi, yakni hanya sekitar 3 persennya saja yang berujung pada kematian.

"Tidak perlu khawatir yang berlebihan karena dari seluruh pasien yang terinfeksi virus COVID-19 masih jauh lebih banyak yang sembuh ketimbang yang meninggal. Angkanya kecil sekali yakni hanya 3 persen dari seluruh kasus di dunia," kata Angga Mardro Raharjo, dokter yang menjadi tim penanganan kesiagaan COVID-19 di RSD dr Soebandi Jember itu.

Sementara Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Jember Diah Kusworini mengatakan pihaknya belum menemukan kasus pasien yang terinfeksi COVID-19 di Jember, namun berbagai upaya pencegahan penularan virus corona terus dilakukan.

"Pasien yang sebelumnya dalam pengawasan telah dilakukan pemeriksaan lanjutan dan dinyatakan negatif, sehingga saat ini Jember masih belum ada kasus terinfeksi COVID-19," katanya.

Baca juga: Rektor Unej buat kebijakan pencegahan dini COVID-19

Baca juga: Pekerja migran di Hong Kong bagikan masker bantuan Pemkab Jember

Baca juga: Arsitek RS khusus corona di Tiongkok alumnus Chung Hua School Jember

Baca juga: KAI Jember antisipasi penyebaran virus corona di stasiun

Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar