Jayapura (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersilaturahmi dengan sesepuh para pejuang pergerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) Nicolaas Jouwe (85) yang selama lebih dari 40 tahun bermukim di Belanda. Dari Cikeas, Bogor, Jabar, - kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis, Ketua Dewan Pendiri "Independent Group Supporting The Autonomous Region of Papua With The Republic of Indonesia" (IGSARPRI), Franzalbert Yoku kepada ANTARA melalui telepon selular mengatakan, silaturahmi antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan sesepuh OPM Nicolaas Jouwe berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan penuh persaudaraan. Silaturahmi berlangsung mulai pukul 11.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB, satu jam dari rencana semula hanya 25 menit. Pada kesempatan itu, Presiden SBY didampingi Menko Polhukam, Widodo AS, Menko Kesra, Aburizal Bakrie dan Menteri Perikanan dan Kelautan, Freddy Numberi. Sedangkan Nicolaas Jouwe didampingi Ketua Dewan Pendiri IGSARPRI, Franzalbert Yoku dan anggota pengurus IGSARPRI, Fabiola Ohee. "Silaturahmi antara Presiden SBY dengan sesepuh OPM Nicolaas berlangsung dalam suasana penuh persahabatan, kekeluargaan dan bermartabat. Banyak hal yang dibicarakan pada kesempatan silaturahmi ini untuk kebaikan tanah Papua dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Franzalbert Yoku. Menurut Franzalbert, pada kesempatan pertama, Nicolaas menyampaikan terimakasihnya yang sangat dan rasa hormatnya kepada Presiden SBY karena Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden SBY telah memungkinkan dirinya yang sudah lanjut usia itu kembali ke Indonesia untuk mengunjungi tanah kelahiran di Papua. Pada kesempatan tersebut, Presiden mendengarkan secara saksama berbagai usul-saran konstruktif yang disampaikan Nicolaas demi kebaikan tanah Papua pada masa depan. "Nicolaas meminta Presiden agar berbagai permasalahan di tanah Papua ditangani secara baik dan bermartabat, tidak terjadi lagi pelanggaran HAM dan apabila memungkinkan kiranya dibebaskan para tahanan politik," katanya. Begitu pula, Nicolaas meminta Presiden agar dibentuk sebuah Badan Otorita Papua yang secara khusus menangani pembangunan menyeluruh Provinsi Papua dan Papua Barat agar kesejahteraan rakyat terutama orang asli Papua segera tercapai dalam alam Otonomi Khusus (Otsus) Papua. Nicolaas meminta agar Pemerintah Indonesia benar-benar melaksanakan program nasional pemberantasan tindak pidana korupsi yang terjadi di tanah Papua karena korupsi justeru semakin memiskinkan rakyat Papua dan menimbulkan ketidakpuasan orang asli Papua terhadap prses pembangunan yang sedang berlangsung. Usul-saran Nicoaas itu ditanggapi positif oleh Presiden sekaligus menugaskan Menko Polhukam dan Menko Kesra untuk mengambil langkah-langkah konkret sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku di dalam Negara Republik Indonesia. Pada kesempatan itu, Presiden SBY meminta agar Nicolaas ikut serta berperan bersama Pemerintah Indonesia menyelesaikan berbagai permasalahan di tanah Papua. "Presiden berharap, Nicolaas ikut membangun Republik Indoensia secara menyeluruh sesuai kemampuan yang dia miliki demi tetap utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Frnazalbert Yoku. Sebelum pamit meninggalkan Cikeas untuk selanjutnya pulang ke Negeri Belanda, Nicolaas meminta Presiden kiranya berkenan memberikan kepadanya beserta keluarganya Kewarganegaraan Indonesia karena dirinya bersama keluarga siap pulang ke tanah leluhur di Papua. "Nicolaas berkeinginan pulang ke tanah Papua mengisi hari-hari senja hidupnya ini dengan berpartisipasi membangun Papua dalam bingkai Otsus bagi Papua," kata Franzalbert Yoku.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2009