Artikel

Akhirnya polisi Wuhan minta maaf kepada ahli waris pengungkap COVID-19

Oleh M. Irfan Ilmie

Akhirnya polisi Wuhan minta maaf kepada ahli waris pengungkap COVID-19

Dok - dr Li Wenliang berswafoto di sela-sela kesibukan menangani pasien COVID-19 di Rumah Sakit Pusat Wuhan, China. (ANTARA/Istimewa)

Dia pahlawan abadi
Jakarta (ANTARA) - Setelah 40 hari melakukan investigasi atas kematian dr Li Wenliang, lembaga pengawas tertinggi China mengeluarkan beberapa rekomendasi.

Salah satunya adalah mendesak pihak kepolisian di Wuhan meminta maaf kepada keluarga almarhum dr Li, spesialis mata yang pertama kali mengungkapkan potensi merebaknya wabah radang-radang paru-paru yang disebabkan oleh virus corona jenis baru menjelang akhir 2019 di Ibu Kota Provinsi Hubei, China, itu.

Rekomendasi yang dikeluarkan pada Kamis (19/3) itu berdasarkan penyelidikan terhadap aparat kepolisian Wuhan yang memberikan surat teguran kepada dr Li terkait pernyataannya di grup pesan instannya akan bahaya virus yang belakangan diidentifikasi sebagai COVID-19.

Penyelidikan kasus kematian Li tersebut dilakukan karena berpotensi menimbulkan serangan terhadap sistem politik China.

Dalam investigasi yang dilakukan sejak kematian dr Li pada 7 Februari, tim telah meminta badan pengawas daerah untuk melakukan berbagai perbaikan sistem, meminta pertanggungjawaban personel terkait, dan mengumumkan hasil pemeriksaan secepat mungkin.

Tim juga menyelidiki proses perawatan darurat kepada Li sebelum meninggal dunia karena beberapa masyarakat mempertanyakan penyebab kematian tersebut, apalagi adanya dugaan pihak berwenang setempat berupaya menunda pengumuman kematian dokter berusia 37 tahun itu.

Li, salah satu dari delapan dokter telah berusaha mengingatkan petugas medis lainnya mengenai bahaya penyakit yang ditanganinya itu.

Namun peringatan tersebut berbuah teguran dari pihak kepolisian. Namun surat teguran tersebut tidak membuat Li mundur dari garis terdepan medan pertempuran melawan wabah meskipun pada akhirnya dia harus kehilangan nyawa setelah kontak langsung dengan pasiennya yang terinfeksi COVID-19.

Tim investigasi juga berhasil membongkar kronologi kontak Li dengan wabah, perawatan sebelum kematian, dan perawatan kegawatdaruratan yang diterimanya.

Tidak ketinggalan tim juga merekomendasikan pemberian kompensasi kepada keluarga dr Li.

Diperoleh informasi bahwa dr Li meninggalkan seorang istri yang sedang mengandung dengan usia kehamilan tujuh bulan.

Para dokter yang memberikan perawatan darurat kepada Li juga dimintai keterangan oleh tim investigasi.

Kepada tim penyidik, mereka mengatakan bahwa dokter muda Li itu sebagai rekan kerja mereka dan mereka telah berupaya maksimal menyelamatkan nyawa rekannya itu.

Para pakar kesehatan yang memberikan masukan atas perawatan dr Li mengatakan bahwa penanganan Li sudah sesuai standar kesehatan dan para dokter sudah memberikan obat-obatan serta tindakan medis disesuaikan dengan kondisi pasien.

Pihak rumah sakit juga telah meminta persetujuan kepada Li dan keluarganya sebelum melakukan perawatan medis, demikian hasil investigasi yang beredar di sejumlah media resmi China.

Temuan Mirip SARS
Sebagai dokter ahli mata di Rumah Sakit Pusat Wuhan yang sekaligus menjadi tempat dia dirawat hingga meninggal dunia, Li mendapati pasien yang dirawatnya dengan gejala-gejala seperti SARS pada 30 Desember 2019.

Kemudian dia membagikan temuannya itu kepada teman-temannya bahwa ada kasus sejenis SARS seperti disampaikan di akun Weibonya.

Pada 3 Januari 2020, polisi memanggil dr Li atas penyebaran rumor tersebut dan memintanya menandatangani surat teguran.

Pada saat itu pula Biro Kesehatan Kota Wuhan menyatakan bahwa tidak ada bukti virus tersebut dapat ditularkan antarmanusia.

Ternyata informasi yang tersebar untuk mengingatkan masyarakat akan risiko penularan antarmanusia itu sangat akurat. Ditambah lagi jumlah kematian akibat COVID-19 lebih tinggi daripada wabah SARS di China pada 2003 yang sama-sama menyerang paru-paru.

Ungkapan kekecewaan dan kesedihan atas kematian Li membanjiri media sosial di China dan warganet menjadikannya sebagai pahlawan nasional. Warganet juga mendesak pihak berwenang mengusut kematian itu.

"Dia pahlawan abadi," komentar seorang warganet yang ditimpali warganet China lainnya dengan menuliskan, "Dia masih muda, tidak seharusnya terjadi padanya."

"Yang saya tahu dia telah mengungkapkan kebenaran yang tidak pernah berani dilakukan oleh orang lain," kata Wu Yan, dokter yang bekerja di poliklinik yang sama dengan dr Li, seperti dikutip South China Morning Post.

Tim investigasi tidak berhenti sampai di situ karena mereka akan terus melakukan penyelidikan lebih mendalam.

Kematian Li telah menjadi bahan eksploitasi oleh pihak asing, terutama yang sentimen terhadap China, demikian Global Times.

Tentu saja hal itu juga bisa memicu kemarahan atas penanganan wabah COVID-19 yang berepisentrum di Wuhan.

Senat Amerika Serikat pada 3 Maret mendesak China untuk berterus terang atas kematian dr Li itu.

Namun sejumlah pengamat di China justru mengingatkan pihak-pihak asing agar tidak mengeksploitasi kesedihan sepeninggal dr Li dengan menyebarkan retorika anti-China di media sosial.

Beberapa pengamat mengatakan bahwa sebagai anggota Partai Komunis China (CPC), dr Li telah bertekad dan berkorban dalam memerangi wabah tersebut.

Pemerintah pusat China di Beijing mengirimkan empat tim pada 7 Februari-12 Maret guna melakukan penyelidikan berbagai peristiwa sosial yang menarik perhatian publik seputar COVID-19.

Akan tetapi penyelidikan terhadap kasus Li memakan waktu paling lama karena mereka beralasan prosesnya sangat rumit.

Penyelidikan tersebut sesuai amanah Pasal 15 Bab III Undang-Undang Pengawasan Republik Rakyat China mengenai pengawasan terhadap personel di bidang pendidikan publik, penelitian ilmiah, kebudayaan, petugas medis, olahraga, dan unit-unit lainnya.

Penyelidikan kematian Li sangat komprehensif karena tim tidak hanya mencari kesalahan dalam perawatan medis Li, melainkan juga mengamati adanya dugaan kesengajaan di balik peristiwa itu, seperti penyalahgunaan kewenangan, kegagalan dalam menjalankan tanggung jawab para pejabat lokal dalam mencegah epidemi, demikian Ren Jianming, profesor dari Beihang University di Beijing, seperti dikutip Global Times, harian terkemuka yang dikelola partai berkuasa di China itu.

Baca juga: Angka kematian akibat COVID-19 di Italia lewati China

Baca juga: Setiap 10 menit, satu orang meninggal di Iran karena COVID-19

Oleh M. Irfan Ilmie
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar